Sabtu, 26 April 2014

Tugas 3 Mat & Ilmu Ilmiah Dasar

MAT dan ILMU ALAMIAH DASAR
(Softskill)


Tanaman Teh (Camellia sinensis)

Disusun oleh :

                                                Nama               :  Rini Hasanah
                                                NPM               : 17513741
                                                Kelas               :  1PA15
                                                Jurusan            : S1 Psikologi


Universitas Gunadarma
2014

KATA PENGANTAR

                        Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yangg Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya terutama nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Mat. Dan Ilmu Ilmiah Dasar yang penulis beri judul “Tanaman Teh”.
                        Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dalam bentuk penyusunan maupun materinya. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dan dapat lebih baik kedepannya. Semoga makalah ini bermaanfaat untuk pembaca.
 Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Bekasi,  2014

            
                                                                                                                                          Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

            Indonesia adalah Negara yang terletak tepat di tengah garis khatulistiwa, oleh karena itu Indonesia merupakan Negara yang beriklim tropis dan hal itu menjadikan daerah yang sangat baik untuk tumbuh-tumbuhan.
            Berbagai jenis tumbuhan dapat hidup dengan baik dan subur, contohnya  didaerah dataran tinggi  ada tanaman teh. Seperti yang kita ketahui teh adalah salah satu tanaman yang sangat bermanfaat, biasanya teh dikonsumsi menjadi minuman, dan bahan dasar makanan, kecantikan, dan lain-lain.
            Tanaman teh bukan hanya tersebar di Indonesia tapi juga di berbagai Negara lainnya bahkan seluruh dunia. Hal ini karena tanaman teh hidup ddaerah tropis maupun subtropis.

1.2 Rumusan Masalah
            Dari latar belakang masalah di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Apa morfologi tanaman teh?
2.      Bagaimana  cara perkembangbiakan tanaman teh?
3.      Bagaimana iklim yang cocok untuk tanaman teh?
4.      Bagaimana penyebaran tanaman teh?


1.3. Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan masalah sebagai berikut :
1.      mengetahui morfologi tanaman teh?
2.      mengetahui cara perkembangbiakan tanaman teh?
3.      Mengetahui iklim yang cocok untuk tanaman teh?
4.      mengetahui penyebaran tanaman teh?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Morfologi Tanaman Teh
            Tanaman teh atau Camellia sinensis spesies tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh. Nama sinensis dalam bahasa Latin berarti Cina. Sedangkan Camellia diambil dari nama Latin Pendeta Georg Kamel, S.J (1661 - 1706), seorang pendeta kelahiran Ceko yang menjadi seorang pakar botani dan misionaris.
            Camellia sinensis berasal dari daratan Asia Selatan dan Tenggara, namun sekarang telah dibudidayakan di seluruh dunia, baik daerah tropis maupun subtropis. Tumbuhan ini merupakan perdu atau pohon kecil yang biasanya dipangkas bila dibudidayakan untuk dipanen daunnya. Ia memiliki akar tunggang yang kuat. Bunganya kuning-putih berdiameter 2,5–4 cm dengan 7 hingga 8 petal.
            Biji Camellia sinensis serta biji Camellia oleifera dapat di pres untuk mendapatkan minyak teh, suatu bumbu yang agak manis sekaligus minyak masak yang berbeda dari minyak pohon teh, suatu minyak atsiri yang dipakai untuk tujuan kesehatan dan kecantikan dan berasal dari dedaunan tumbuhan yang berbeda.
            Daunnya memiliki panjang 4–15 cm dan lebar 2–5 cm. Daun segar mengandung kafein sekitar 4%. Daun muda yang berwarna hijau muda lebih disukai untuk produksi teh; daun-daun itu mempunyai rambut-rambut pendek putih di bagian bawah daun. Daun tua berwarna lebih gelap. Daun dengan umur yang berbeda menghasilkan kualitas teh yang berbeda-beda, karena komposisi kimianya yang berbeda. Biasanya, pucuk dan dua hingga tiga daun pertama dipanen untuk permrosesan. Pemetikan dengan tangan ini diulang setiap dua minggu.

Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan          : Plantae
Divisi               : Magnoliophyta
Kelas               : Magnoliopsida
Ordo                : Ericales
Famili              : Thaeceae
Genus              : Camellia
Spesies            : C. sinensis

            Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitamteh oolongteh hijau, dan teh putih.
            Istilah "teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah, rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehipcamomilekrisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh disebut teh herbal.
            Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh.
2.1 Cara perkembangbiakan tanaman teh

            Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative. Pada perbanyakan secara generative digunakan bahan tanaman asal biji, sedangkan pada perbanyak secara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon. Potensi produksi suatu genotip tanaman merupakan criteria yang sangat penting dalam memilih bahan tanaman. Secara umum dapat dikatakan, semakin tinggi potensi produksi genotip, biaya produksi akan semakin rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar.
            Untuk mencapai hal tersebut, dalam budi daya teh dapat digunakan kedua bahan tanaman tersebut. Dewasa ini penyediaan bahan tanaman asal stek telah demikian popular, karena merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bahan tanaman (bibit) dalam jumlah banyak. Meskipun demikian, pembibitan asal biji sesungguhnya mempunya beberapa keuntungna yaitu adaptabilitasnya lebih luas, potensi produksinya baik, dan keanekaragaman perdua mempunyai pengaruh yang baik terhadap mutu teh jadi, kerena pucuk yang dihasilkan mengandung zat penentu kualitas yang tercampur secara alami pada tiap-tiap perdu.

Bibit namanan asal biji

            Biji yanag akan digunakan sebagai bahan tanaman hendaknya berasal dari kebun biji yang dikelola secara khusus. Berdasarkan jumlah klon yang ditanam sebagai pohon induk biji, kebun biji dibedakan menjadi kebun biji biklonal (terdiri dari dua klon) dan kebun biji poliklonal ( terdiri lebih dari dua klon). Dikebun biji biklonal ataupun poliklonal seperti yang terdapat di Gembung dan pasit Sarongge (Puslitbun Gambung, 1992), klon-klon tertentu ditanam dalam bentuk kombinasi barisan, segiempat atau segitiga ganda, dengan jarak tanam berkisar antara 4 m x 5 m, 5 m x 5 m tergnatung keadaan.
            Agat biji yang dihasilkan bermutu tinggi, perlu dilakukan pemeliharaan kebun biji dengan baik berupa penyiangan yang dilakukan secara teratur, pemupukan dengan dosis yang mencukupi(2kg urea, 1 kg TSP, 1 kg KCl perpohon pertahun), pemangkasa yang baik agar pohon mempunyai bentuk yang ideal, pengendalian hama penyakit dan pemanenan biji secara baik dan benar.

Bibit tanaman asal Setek

            Dewasa ini, pertanaman teh diarahkan pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan mantap, sehingga perusahaan perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit tercapai apabila digunakan bahan tanaman asal biji (seedling), karena biji merupakan hasil persilangan yang dapat menumblkan perubahan sifat pada keturunannya. Memperbanyka bahan tanaman secara vegetative dengan setek merupakan  salah satu cara untuk mempertahankan sifat-sifat baik tanaman induk (klon), karena dengan perbanyakan vegetative tidak terjadi perubahan sifat genotip.
            Pembibitan the dengan setek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak, dan sejenis klon yang ditentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama dengan pohon induknya. Setek daun teh Bahan setek dapat diambil dari kebun induk. Ranting yang diambil sebaiknya telah mempunyai 10-12 helai dan ranting dipotong 10-15cm.

2.3 Iklim

            Pohon teh walaupun dapat ditanam di dataran rendah hal ini kurang baik dibanding tanaman teh yang ditanam di dataran tinggi. Karena pohon teh sangat membutuhkan curah hujan yang cukup tinggi, yaitu, rata-rata per tahunnya 2000 mm – 2500 mm, sedangkan untuk musim kemarau berkisar 100 mm.

            Walaupun pohon teh sangat baik ditanam di dataran tinggi tapi perlu diketahui, apabila pohon teh ditanam didataran yang terlalu tinggi maka hasilnya kurang maksimal, pertumbuhannya akan terhambat (lambat). Jadi untuk ketinggian usahakan pada posisi 800 – 1100 m dpl. Jangan sampai melebihi 1200 m dpl. Temperature yang baik untuk tanaman teh yaitu berkisar 14° - 25°C.

2.4 Penyebaran Tanaman Teh

            Negeri Cina menjadi tempat lahirnya teh, disanalah pohon teh Cina (Camellia sinensis) ditemukan dan berasal. Tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah itu tropis dan sub-tropis, dimana daerah tersebut memang secara keseluruhan adalah hutan jaman purba. Daerah demikian, yang hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok bagi tanaman teh, bahkan ada teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh yang ditanam yang mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.
            Legenda menjadi bentuk dokumentasi yang paling tua, dimana diceritakan bahwa Shennong yang menjadi cikal bakal pertanian dan ramuan obat - obatan, juga yang menjadi penemu teh. Dikatakan dalam bukunya bahwa ia secara langsung mencoba banyak ramuan herbal dan menggunakan teh sebagai obat pemunah bila ia terkena racun dari ramuan yang dicoba. Hidupnya berakhir karena ia meminum ramuan yang beracun dan tidak sempat meminum teh pemunah racun menyebabkan organ dalam tubuhnya meradang.
            Teh Cina pada awalnya memang digunakan untuk bahan obat – obatan (Abad ke-8 SM), itupun sudah berumur ribuan tahun riwayatnya. Orang – orang Cina pada waktu itu mengunyah teh (770 SM – 476 SM) mereka menikmati rasa yang menyenangkan dari sari daun teh. Teh juga sering kali dipadukan dengan ragam jenis makanan dan racikan sop.
            Pada jaman pemerintahan dinasti Han (221 SM – 8 M), teh mulai diolah dengan pemrosesan yang terbilang sederhana, dibentuk membulat, dikeringkan dan disimpan, teh mulai dijadikan sebagai minuman, teh diseduh dan dikombinasikan dengan ramuan lain (misalnya : jahe) dan kebiasaan ini melekat kuat dengan kebudayaan masyarakat Cina. Lebih jauh lagi, teh kemudian digunakan sebagai tradisi dalam menjamu para tamu. Setelah jaman Dinasti Ming, banyak ragam jenis teh kemudian ditemukan dan ditambahkan, teh yang populer nantinya ini banyak dikembangkan di daerah Canton (Guangdong) dan Fukien (Fujian).
            Konsumsi budaya Cina akan kebiasaan minum teh pun menyebar, bahkan melekat erat pada setiap lapisan masyarakat.Pada tahun 800 M., Lu Yu menulis buku yang mendefiniskan tentang teh, dengan judul Ch'a Ching. Lu Yu adalah seorang anak yatim yang dibesarkan oleh cendekiawan Pendeta Budha di salah satu Biara terbaik di Cina. Sebagai seorang pemuda, diapun acap kali melawan disiplin pendidikan kependetaan yang kemudian membuatnya memiliki daya pengamatan yang baik, performasinya pun meningkat dari tahun ke tahun, meskipun demikian, ia merasa hidupnya hampa dan tidak bermakna.
            Setelah setengah perjalan hidupnya, ia pensiun selama 5 tahun untuk mengasingkan diri. Dengan riwayat hidup dan perjalanan yang pernah disinggahinya, ia mengkondisikan beragam metode dalam bertanam dan mengelola teh jaman Cina Purba.
Perjalanan Teh ke Jepang
            Ternyata Pengaruh Teh Cina menulari Jepang, konsumsi teh menyebar melalui kebudayaan Cina yang akhirnya menjangkau setiap aspek masyarakat. Bibit teh dibawa ke Jepang oleh seorang pendeta Budha bernama Yeisei yang melihat bahwa teh Cina mampu meningkatkan konsentrasi saat bermeditasi. Ia dikenal sebagai Bapak Teh di Jepang, karena asal muasal inilah, teh Jepang erat kaitannya dengan Zen Buddhism. Teh diminati pula dalam kekaisaran Jepang, yang kemudian menyebar dengan cepat di kalangan istana dam masyarakat Jepang.
            Teh bahkan menjadi budaya dan bagian dari seni yang dituangkan dalam Japanese Tea Ceremony (Cha-no-yu atau air panas untuk teh). Upacara ini membutuhkan latihan yang panjang, bahkan hingga bertahun – tahun. Performasi dari Cha-no-yu adalah menjungjung tinggi kesempurnaan, kesopanan, pesona dan keanggunan.
Perjalanan Teh ke Negeri Barat
            Budaya mengkonsumsi teh yang sudah dilakukan di Cina dan Jepang ternyata menjadi buah bibir di Eropa. Kelompok kafilah bahkan mendengar bagaimana orang – orang mengkonsumsi teh, dan mendapatkan informasi yang samar, lucunya mereka mendengar bahwa teh di seduh, digarami, diberi mentega dan kemudian dimakan. Orang Eropa yang secara personal menemukan teh dan kemudian menulis tentangnya adalah Jesuit Father Jasper de Cruz pada tahun 1560.
            Portugis menjalin hubungan dagang dengan Cina, mengembangkan jalur dagang dengan mengkapalkan teh ke Lisbon dan kemudian kapal – kapal Belanda berangkat ke Perancis, Negeri Belanda dan baltik, teh kemudian semakin populer ke belahan dunia barat.
            Teh singgah di Eropa pada jaman Elizabeth I,dan kemudian tren dalam kerajaan Belanda. Teh menjadi minuman yang mahal pada waktu itu (lebih dari $100 per pound-nya), sehingga para pedagang teh mendapatkan kemakmuran darinya. Masyarakat Belanda sangat menggemari teh, dan konsumsi teh pun meningkat pesat, meskipun demikian banyak yang mempertanyakan manfaat teh,dan berbagai dampak negatif lainnya. Apapun itu, masyarakat pada umunya tidak lagi mempermasalahkan/terpengaruh dan kembali menikmati minuman teh ini. Teh menjadi bagian dari masyarakat di Eropa, dan ragam kombinasi konsumsi teh pun dicoba, seperti mencampurkan teh dengan susu. Pada masa itupun layanan teh disajikan pertama kali di restoran. Kedai minuman pun memberikan perkakas teh portabel lengkap disertai alat pemanasnya.
            Teh pun sangat populer di Perancis, tetapi tidak berlangsung lama (kurang lebih lima belas tahun), dan kemudian digantikan popularitasnya dengan minuman yang memiliki daya tarik yang lebih kuat seperti anggurkopi, dan cokelat.
Teh di Amerika dan Inggris
            Pada tahun 1650, orang – orang Belanda sangat aktif dalam perdagangan sampai pada dunia Barat. Peter Stuyvesant yang membawa teh Cina ke Amerika pertama kali untuk koloninya (tempat itu kenal sebagai: New York sampai sekarang).
            Teh pertmana kali tiba di Inggris sekitar tahun 1650-an, setelahnya teh menjadi minuman yang sangat populer bahkan dapat dikatakan sebagai minuman nasional masyarakat Inggris.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Tanaman teh adalah salah satu tanaman yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia, selain untuk minuman sehari- hari teh juga banyak keuntungannya, seperti untuk kecantikan, dasar bahan makanan, obat dll.
            Cara perkembang biakan pada tanaman teh ada dua cara, yaitu dengan cara generative dan vegetative. Penyebarannya tanaman teh bukan hanya diIndonesia, tapi juga banyak tersebar dinegara lain.

Daftar Pustaka
Setyamidjaja, djoehana. (2000) Teh Budi Daya dan Pengolahan Pasca Panen. Kanisius.  Yogyakarta.