MAT
dan ILMU ALAMIAH DASAR
(Softskill)
Tanaman Teh (Camellia sinensis)
Disusun
oleh :
Nama : Rini Hasanah
NPM
:
17513741
Kelas
: 1PA15
Jurusan
: S1 Psikologi
Universitas
Gunadarma
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yangg Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya terutama
nikmat kesempatan dan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini tepat waktu. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Mat. Dan Ilmu Ilmiah Dasar
yang penulis beri judul “Tanaman Teh”.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dalam bentuk penyusunan maupun materinya.
Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan sarannya yang membangun dan dapat
lebih baik kedepannya. Semoga makalah ini bermaanfaat untuk pembaca.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
Bekasi, 2014
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Indonesia adalah Negara yang
terletak tepat di tengah garis khatulistiwa, oleh karena itu Indonesia merupakan
Negara yang beriklim tropis dan hal itu menjadikan daerah yang sangat baik
untuk tumbuh-tumbuhan.
Berbagai jenis tumbuhan dapat hidup
dengan baik dan subur, contohnya
didaerah dataran tinggi ada
tanaman teh. Seperti yang kita ketahui teh adalah salah satu tanaman yang
sangat bermanfaat, biasanya teh dikonsumsi menjadi minuman, dan bahan dasar
makanan, kecantikan, dan lain-lain.
Tanaman teh bukan hanya tersebar di
Indonesia tapi juga di berbagai Negara lainnya bahkan seluruh dunia. Hal ini
karena tanaman teh hidup ddaerah tropis maupun subtropis.
1.2
Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas,
maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apa
morfologi tanaman teh?
2. Bagaimana cara perkembangbiakan tanaman teh?
3. Bagaimana
iklim yang cocok untuk tanaman teh?
4. Bagaimana
penyebaran tanaman teh?
1.3. Tujuan Masalah
Dari rumusan
masalah di atas, maka penulis memiliki tujuan masalah sebagai berikut :
1. mengetahui
morfologi tanaman teh?
2. mengetahui
cara perkembangbiakan tanaman teh?
3. Mengetahui
iklim yang cocok untuk tanaman teh?
4. mengetahui
penyebaran tanaman teh?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Morfologi Tanaman Teh
Tanaman
teh atau Camellia sinensis spesies
tanaman yang daun dan pucuk daunnya digunakan untuk membuat teh. Nama sinensis dalam bahasa Latin berarti Cina.
Sedangkan Camellia diambil dari nama Latin Pendeta Georg
Kamel, S.J (1661 - 1706), seorang pendeta kelahiran Ceko yang
menjadi seorang pakar botani dan misionaris.
Camellia
sinensis berasal dari daratan Asia Selatan dan Tenggara, namun
sekarang telah dibudidayakan di seluruh dunia, baik daerah tropis maupun
subtropis. Tumbuhan ini merupakan perdu atau pohon kecil
yang biasanya dipangkas bila dibudidayakan untuk dipanen daunnya. Ia
memiliki akar tunggang
yang kuat. Bunganya kuning-putih berdiameter 2,5–4 cm dengan 7 hingga 8 petal.
Biji Camellia
sinensis serta biji Camellia oleifera dapat di pres
untuk mendapatkan minyak teh, suatu bumbu yang agak manis sekaligus minyak
masak yang berbeda dari minyak pohon teh, suatu minyak atsiri yang
dipakai untuk tujuan kesehatan dan kecantikan dan berasal dari dedaunan
tumbuhan yang berbeda.
Daunnya
memiliki panjang 4–15 cm dan lebar 2–5 cm. Daun segar mengandung kafein sekitar
4%. Daun muda
yang berwarna hijau muda lebih disukai untuk produksi teh; daun-daun itu
mempunyai rambut-rambut pendek putih di bagian bawah daun. Daun tua berwarna
lebih gelap. Daun dengan umur yang berbeda menghasilkan kualitas teh yang
berbeda-beda, karena komposisi kimianya yang berbeda. Biasanya, pucuk dan dua
hingga tiga daun pertama dipanen untuk permrosesan. Pemetikan dengan tangan ini
diulang setiap dua minggu.
Klasifikasi Ilmiah
Kerajaan :
Plantae
Divisi :
Magnoliophyta
Kelas :
Magnoliopsida
Ordo :
Ericales
Famili :
Thaeceae
Genus :
Camellia
Spesies : C.
sinensis
Teh adalah minuman yang
mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara
menyeduh daun, pucuk daun,
atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan
air panas. Teh yang berasal dari tanaman teh dibagi menjadi 4 kelompok: teh hitam, teh oolong, teh hijau, dan teh putih.
Istilah
"teh" juga digunakan untuk minuman yang dibuat dari buah,
rempah-rempah atau tanaman obat lain yang diseduh, misalnya, teh rosehip, camomile, krisan dan Jiaogulan. Teh yang tidak mengandung daun teh
disebut teh
herbal.
Teh merupakan
sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan
kadar lemak, karbohidrat atau protein mendekati
nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan
tersendiri dari teh.
2.1 Cara perkembangbiakan tanaman teh
Tanaman teh dapat diperbanyak secara
generative maupun secara vegetative. Pada perbanyakan secara generative digunakan
bahan tanaman asal biji, sedangkan pada perbanyak secara vegetative digunakan
bahan tanaman asal setek berupa klon. Potensi produksi suatu genotip tanaman
merupakan criteria yang sangat penting dalam memilih bahan tanaman. Secara umum
dapat dikatakan, semakin tinggi potensi produksi genotip, biaya produksi akan
semakin rendah, sehingga keuntungan yang diperoleh akan semakin besar.
Untuk mencapai hal tersebut, dalam
budi daya teh dapat digunakan kedua bahan tanaman tersebut. Dewasa ini
penyediaan bahan tanaman asal stek telah demikian popular, karena merupakan
cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bahan tanaman (bibit) dalam
jumlah banyak. Meskipun demikian, pembibitan asal biji sesungguhnya mempunya
beberapa keuntungna yaitu adaptabilitasnya lebih luas, potensi produksinya
baik, dan keanekaragaman perdua mempunyai pengaruh yang baik terhadap mutu teh
jadi, kerena pucuk yang dihasilkan mengandung zat penentu kualitas yang
tercampur secara alami pada tiap-tiap perdu.
Bibit namanan asal biji
Biji yanag akan digunakan sebagai
bahan tanaman hendaknya berasal dari kebun biji yang dikelola secara khusus. Berdasarkan
jumlah klon yang ditanam sebagai pohon induk biji, kebun biji dibedakan menjadi
kebun biji biklonal (terdiri dari dua klon) dan kebun biji poliklonal ( terdiri
lebih dari dua klon). Dikebun biji biklonal ataupun poliklonal seperti yang
terdapat di Gembung dan pasit Sarongge (Puslitbun Gambung, 1992), klon-klon
tertentu ditanam dalam bentuk kombinasi barisan, segiempat atau segitiga ganda,
dengan jarak tanam berkisar antara 4 m x 5 m, 5 m x 5 m tergnatung keadaan.
Agat biji yang dihasilkan bermutu
tinggi, perlu dilakukan pemeliharaan kebun biji dengan baik berupa penyiangan
yang dilakukan secara teratur, pemupukan dengan dosis yang mencukupi(2kg urea,
1 kg TSP, 1 kg KCl perpohon pertahun), pemangkasa yang baik agar pohon
mempunyai bentuk yang ideal, pengendalian hama penyakit dan pemanenan biji
secara baik dan benar.
Bibit tanaman asal Setek
Dewasa ini, pertanaman teh diarahkan
pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan mantap, sehingga perusahaan
perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit tercapai apabila digunakan
bahan tanaman asal biji (seedling), karena biji merupakan hasil persilangan
yang dapat menumblkan perubahan sifat pada keturunannya. Memperbanyka bahan
tanaman secara vegetative dengan setek merupakan salah satu cara untuk mempertahankan
sifat-sifat baik tanaman induk (klon), karena dengan perbanyakan vegetative tidak
terjadi perubahan sifat genotip.
Pembibitan the dengan setek
merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah
yang banyak, dan sejenis klon yang ditentukan dapat dipastikan sifat
keunggulannya sama dengan pohon induknya. Setek daun teh Bahan setek dapat
diambil dari kebun induk. Ranting yang diambil sebaiknya telah mempunyai 10-12
helai dan ranting dipotong 10-15cm.
2.3
Iklim
Pohon
teh walaupun dapat ditanam di dataran rendah hal ini kurang baik dibanding
tanaman teh yang ditanam di dataran tinggi. Karena pohon teh sangat membutuhkan
curah hujan yang cukup tinggi, yaitu, rata-rata per tahunnya 2000 mm – 2500 mm,
sedangkan untuk musim kemarau berkisar 100 mm.
Walaupun pohon teh sangat baik ditanam di dataran tinggi tapi perlu diketahui, apabila pohon teh ditanam didataran yang terlalu tinggi maka hasilnya kurang maksimal, pertumbuhannya akan terhambat (lambat). Jadi untuk ketinggian usahakan pada posisi 800 – 1100 m dpl. Jangan sampai melebihi 1200 m dpl. Temperature yang baik untuk tanaman teh yaitu berkisar 14° - 25°C.
2.4 Penyebaran Tanaman Teh
Negeri Cina menjadi
tempat lahirnya teh, disanalah pohon teh Cina (Camellia sinensis) ditemukan dan
berasal. Tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah
itu tropis dan sub-tropis, dimana daerah tersebut memang secara keseluruhan
adalah hutan jaman purba. Daerah demikian, yang hangat dan lembab menjadi
tempat yang sangat cocok bagi tanaman teh, bahkan ada teh liar yang berumur
2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh yang ditanam yang mencapai usia 800
tahun ditemukan ditempat ini.
Legenda menjadi
bentuk dokumentasi yang paling tua, dimana diceritakan bahwa Shennong yang
menjadi cikal bakal pertanian dan ramuan obat - obatan, juga yang menjadi
penemu teh. Dikatakan dalam bukunya bahwa ia secara langsung mencoba banyak
ramuan herbal dan menggunakan teh sebagai obat pemunah bila ia terkena racun
dari ramuan yang dicoba. Hidupnya berakhir karena ia meminum ramuan yang
beracun dan tidak sempat meminum teh pemunah racun menyebabkan organ dalam
tubuhnya meradang.
Teh Cina pada
awalnya memang digunakan untuk bahan obat – obatan (Abad ke-8 SM), itupun sudah
berumur ribuan tahun riwayatnya. Orang – orang Cina pada waktu itu mengunyah
teh (770 SM – 476 SM) mereka menikmati rasa yang menyenangkan dari sari daun
teh. Teh juga sering kali dipadukan dengan ragam jenis makanan dan racikan sop.
Pada jaman
pemerintahan dinasti Han (221 SM – 8 M), teh mulai diolah dengan pemrosesan
yang terbilang sederhana, dibentuk membulat, dikeringkan dan disimpan, teh
mulai dijadikan sebagai minuman, teh diseduh dan dikombinasikan dengan ramuan
lain (misalnya : jahe) dan kebiasaan ini melekat kuat dengan kebudayaan
masyarakat Cina. Lebih jauh lagi, teh kemudian digunakan sebagai tradisi dalam
menjamu para tamu. Setelah jaman Dinasti Ming, banyak ragam jenis teh kemudian
ditemukan dan ditambahkan, teh yang populer nantinya ini banyak dikembangkan di
daerah Canton (Guangdong) dan Fukien (Fujian).
Konsumsi budaya
Cina akan kebiasaan minum teh pun menyebar, bahkan melekat erat pada setiap
lapisan masyarakat.Pada tahun 800 M., Lu Yu menulis buku yang mendefiniskan
tentang teh, dengan judul Ch'a Ching. Lu Yu adalah seorang anak yatim yang
dibesarkan oleh cendekiawan Pendeta Budha di salah satu Biara terbaik di Cina.
Sebagai seorang pemuda, diapun acap kali melawan disiplin pendidikan
kependetaan yang kemudian membuatnya memiliki daya pengamatan yang baik,
performasinya pun meningkat dari tahun ke tahun, meskipun demikian, ia merasa
hidupnya hampa dan tidak bermakna.
Setelah
setengah perjalan hidupnya, ia pensiun selama 5 tahun untuk mengasingkan diri.
Dengan riwayat hidup dan perjalanan yang pernah disinggahinya, ia
mengkondisikan beragam metode dalam bertanam dan mengelola teh jaman Cina
Purba.
Perjalanan Teh ke Jepang
Ternyata
Pengaruh Teh Cina menulari Jepang, konsumsi teh
menyebar melalui kebudayaan Cina yang akhirnya menjangkau setiap aspek
masyarakat. Bibit teh dibawa ke Jepang oleh seorang pendeta Budha bernama
Yeisei yang melihat bahwa teh Cina mampu meningkatkan konsentrasi saat
bermeditasi. Ia dikenal sebagai Bapak Teh di Jepang, karena asal muasal inilah,
teh Jepang erat kaitannya dengan Zen Buddhism. Teh diminati pula dalam
kekaisaran Jepang, yang kemudian menyebar dengan cepat di kalangan istana dam
masyarakat Jepang.
Teh bahkan
menjadi budaya dan bagian dari seni yang dituangkan dalam Japanese Tea Ceremony
(Cha-no-yu atau air panas untuk teh). Upacara ini membutuhkan latihan yang
panjang, bahkan hingga bertahun – tahun. Performasi dari Cha-no-yu adalah
menjungjung tinggi kesempurnaan, kesopanan, pesona dan keanggunan.
Perjalanan Teh ke Negeri Barat
Budaya
mengkonsumsi teh yang sudah dilakukan di Cina dan Jepang ternyata menjadi buah
bibir di Eropa. Kelompok kafilah bahkan
mendengar bagaimana orang – orang mengkonsumsi teh, dan mendapatkan informasi
yang samar, lucunya mereka mendengar bahwa teh di seduh, digarami, diberi
mentega dan kemudian dimakan. Orang Eropa yang secara personal menemukan teh
dan kemudian menulis tentangnya adalah Jesuit Father Jasper de Cruz pada
tahun 1560.
Portugis menjalin
hubungan dagang dengan Cina, mengembangkan
jalur dagang dengan mengkapalkan teh ke Lisbon dan
kemudian kapal – kapal Belanda berangkat ke Perancis, Negeri Belanda dan baltik, teh kemudian semakin populer ke
belahan dunia barat.
Teh singgah di
Eropa pada jaman Elizabeth I,dan kemudian tren dalam kerajaan Belanda. Teh
menjadi minuman yang mahal pada waktu itu (lebih dari $100 per pound-nya), sehingga
para pedagang teh mendapatkan kemakmuran darinya. Masyarakat Belanda sangat
menggemari teh, dan konsumsi teh pun meningkat pesat, meskipun demikian banyak
yang mempertanyakan manfaat teh,dan berbagai dampak negatif lainnya. Apapun
itu, masyarakat pada umunya tidak lagi mempermasalahkan/terpengaruh dan kembali
menikmati minuman teh ini. Teh menjadi bagian dari masyarakat di Eropa, dan
ragam kombinasi konsumsi teh pun dicoba, seperti mencampurkan teh dengan susu.
Pada masa itupun layanan teh disajikan pertama kali di restoran. Kedai minuman
pun memberikan perkakas teh portabel lengkap disertai alat pemanasnya.
Teh pun sangat
populer di Perancis, tetapi tidak
berlangsung lama (kurang lebih lima belas tahun), dan kemudian digantikan
popularitasnya dengan minuman yang memiliki daya tarik yang lebih kuat seperti anggur, kopi, dan cokelat.
Teh di Amerika dan Inggris
Pada tahun
1650, orang – orang Belanda sangat aktif dalam perdagangan sampai pada dunia
Barat. Peter Stuyvesant yang
membawa teh Cina ke Amerika pertama kali untuk koloninya (tempat itu kenal
sebagai: New
York sampai sekarang).
Teh pertmana
kali tiba di Inggris sekitar
tahun 1650-an, setelahnya teh menjadi minuman yang sangat populer bahkan dapat dikatakan
sebagai minuman nasional masyarakat Inggris.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Tanaman teh adalah salah satu
tanaman yang sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia, selain untuk minuman
sehari- hari teh juga banyak keuntungannya, seperti untuk kecantikan, dasar
bahan makanan, obat dll.
Cara perkembang biakan pada tanaman teh
ada dua cara, yaitu dengan cara generative dan vegetative. Penyebarannya tanaman
teh bukan hanya diIndonesia, tapi juga banyak tersebar dinegara lain.
Daftar Pustaka
Setyamidjaja, djoehana. (2000) Teh Budi Daya dan
Pengolahan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.
