Nama : Rini Hasanah
NPM : 17513741
Kelas : 2PA16
Tugas 2
Kesehatan
Mental
1.
Penyesuaian
Diri dan Pertumbuhan
a. Penyesuaian Diri
·
Pengertian Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah
adjustment atau personal adjustment. Penyesuaian diri merupakan suatu
proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi
hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas
dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia
sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan
lingkungannya.
Pada mulanya penyesuaian
diri diartikan sama
dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini
pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis,
atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke
daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin
tersebut.
Ada juga penyesuaian
diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Pemaknaan penyesuaian
diri seperti ini pun terlalu banyak membawa akibat lain.
Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas,
menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapattekanan kuat untuk harus
selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baiksecara moral,
sosial, maupun emosional.
Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian
diri dimaknai
sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan
mengorganisasikan respons dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik,
kesulitan, dan frustrasitidakterjadi.
·
Proses
penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah proses
bagaimana individu mencapai keseimbangan hidup dalam memenuhi kebutuhan sesuai
dengan lingkungan. Penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang
hayat, dan manusia terus menerus berusaha menemukan dan mengatasi tekanan dan
tantangan hidup guna mencapai pribadi yang sehat.
·
Karakteristik
penyesuaian diri
karasteristik penyesuaian diri yang
positif dan penyesuaian diri yang negative
a.
Penyesuaian
diri secara positive
1)
Tidak
menunjukan adanya ketegangan emosional
2)
Tidak
menunjukan adanya mekanisme-mekanisme psikologis
3)
Tidak
menunjukan adanya frustasi pribadi
4)
Memiliki
pertimbamngan rasional dan pengarahan diri
5)
Mampu
dalam belajar
6)
Menghargai
pengalaman
7)
Bersikap
realities dan objektif
b. Penyesuaian diri yang salah
Kegagalan
dalam melakukan penyesuaian diri secara positif, dapat mengakibatkan individu
melakukan penyesuaian yang salah. Penyesuaian diri yang salah di tandai dengan
berbagai bentuk tingkah laku yang serba salah, tidak terarah, emosional, sikap
dapat realistik agresif, dan sebagainya.
·
Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses penyesuaian diri
Faktor-faktor yang mengatur
perkembangan dan terbentuknya pribadi secara bertahap. Penentu-penentu itu
dapat di kelompokan sbb:
a. Kondisi-kondisi fisik
b. Perkembangan dankematangan
c. Penentu psikologis
d. Kondisi lingkungan,khususnya
keluarga dan sekolah
e. Penentu cultural.
b. Pertumbuhan Personal
·
Pengertian
Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan diri itu adalah sebuah proses
transformasi hidup. Perubahan atau transformasi ini terjadi
melalui pembaharuan akal budi dan pikiran manusia. Tujuannya agar
manusia memiliki kapabilitas untuk membedakan hal yang benar dan
tidak benar, baik dan tidak baik. Transformasi akal budi dan pikiran
tersebut dimaksud untuk mendorong perubahan kualitas hidup manusia.
·
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
personal
1. Faktor
biologis atau genetic
Karakteristik anggota tubuh yang berbeda
setiap orang, kepribadian, atau warisan biologis yang sangat kental.
2. Faktor
geografis atau lingkungan
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi
kepribadian seseorangdan nantinya akan menentukan baik atau tidaknya
pertumbuhan personal seseorang.
3. Faktor
budaya
Tidak di pungkiri kebudayaan juga
berpengaruh penting dalam kepribadian seseorang, tetapi bukan berarti setiap
orang dengan kebudayaan yang sama memiliki kepribadian yang sama juga.
Seiring berjalannya waktu, maka
terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan
sekitar. Maka dari faktor-faktor tersebut terdapat beberapa aliran yaitu:
a. Aliran asosiasi
Perubahan
terhadap seseorang secara bertahap karena pengaruh dan pengalaman atau empiri
(kenyataan) luar, melalui panca indera yang menimbulkan sensasiton (perasaan)
maupun pengalaman mengenai keadaan batin sendiri yang menimbulkan reflektion.
b. Psikologi gestalt
Pertumbuhan
adalah proses perubahan secara perlahan-lahan pada manusia dalam mengenal
sesuatu secara keseluruhan, baru kemudian mengenal bagian-bagian dari
lingkungan yang ada.
c. Aliran sosiologi
Pertumbuhan
adalah proses sosialisasi yaitu proses perubahan dari sifat yang semula
asosial maupun sosial kemudian tahap demi tahap
disosialisasikan. Pertumbuhan individu sangat penting untuk dijaga dari sejak
lahir agar bisa tumbuh menjadi individu yang baik dan berguna untuk sesamanya
2.
Stress
a. Arti penting stress
Stres
dalam arti secara umum adalah perasaan tertekan, cemas dan tegang. Dalam bahasa
sehari – hari stres di kenal sebagai stimulus atau respon yang menuntut
individu untuk melakukan penyesuaian. Menurut Lazarus & Folkman (1986)
stres adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari
tubuh atau kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan,
tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Stres
juga adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis ( Chapplin,
1999). Stres juga diterangkan sebagai suatu istilah yang digunakan dalam ilmu
perilaku dan ilmu alam untuk mengindikasikan situasi atau kondisi fisik,
biologis dan psikologis organisme yang memberikan tekanan kepada organisme itu
sehingga ia berada diatas ambang batas kekuatan adaptifnya. (McGrath, dan
Wedford dalam Arend dkk, 1997).
b. Tipe-tipe Stress Psikologis
Menurut Maramis (1990) ada empat tipe stress psikologis,
yaitu:
1. Tekanan
Kita dapat mengalami tekanan dari
dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi personal bersumber dari dalam,
tetapi kadang dikuatkan oleh harapan-harapan dari pihak di luar diri.
2.
Konflik.
Konflik terjadi ketika kita berada
di bawah tekanan untuk berespon simultan
terhadap dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan.
- Konflik menjauh-menjauh: individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama tidak disukai. Misalnya seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga enggan mendapat nilai buruk, apalagi sampai tidak naik kelas.
- Konflik menjauh-menjauh: individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama tidak disukai. Misalnya seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga enggan mendapat nilai buruk, apalagi sampai tidak naik kelas.
-
Konflik mendekat-mendekat. Individu terjerat pada dua pilihan yang sama-sama
diinginkannya. Misalnya, ada suatu acara seminar sangat menarik untuk diikuti,
tetapi pada saat sama juga ada film sangat menarik untuk ditonton.
-
Konflik mendekat-menjauh. Terjadi ketika individu terjerat dalam situasi di
mana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi tertentu.
3.
Frustrasi.
Frustrasi terjadi ketika motif atau
tujuan kita mengalami hambatan dalam pencapaiannya. Frustasi ada yang bersifat intrinsik (cacat
badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana
alam, kematian orang yang dicintai, krisis ekonomi, pengangguran,
perselingkuhan, dan lain-lain.
4. Kecemasan
Kecemasan
merupakan suatu kondisi ketika individu merasakan kekhawatiran/kegelisahan,
ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan
akan terjadinya sesuatu yang buruk. Misalnya seorang anak yang sering dimarahi
ibunya, anak tersebut akan merasakan kecemasan yang cukup tinggi jika ia
melakukan hal yang akan membuat ibunya marah padahal ibu si anak tersebut belum
tentu marah padanya.
c.
Symptom-Reducing Responses terhadap
stress
Berikut mekanisme pertahana diri (defense mechanism)
yang biasa digunakan individu untuk dijadiakan strategi saat menghadapi stress:
1. Indentifikasi
Identifikasi adalah suatu cara yang
digunakan individu untuk menghadapi orang lain dngan membuatnya menjadi
kepribadiannya, ia ingin serupa dan bersifat sama seperti orang lain tersebut.
2. Kompensasi
Seorang individu tidak memperoleh
kepuasan di bidang tertentu, tetapi mendapatkan kepuasan di bidang lain.
3. Overcompensation/ reaction
formation
Perilaku seseorang yang gagal
mencapai tujuan dan orang tersebut tidak mengakui tujuan pertama tersebut dengan
cara melupakan serta melebih-lebihkan tujuan kedua yang biasanya berlawanan
dengan tujuan pertama.
4. Sublimasi
Sublimasi adalah suatu mekanisme
sejenis yang memegang peranan positif dalam menyelesaikan suatu konflik dengan
pengembangan kegiatan yang konstruktif. Penggantian objek dalam bentuk-bentuk
yang dapat diterima oleh masyarakat dan derajatnya lebih tinggi.
5. Proyeksi
Proyeksi adalah mekanisme perilaku
dengan menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri atau
melemparkan kekurangan diri sendiri pada orang lain. Mutu proyeksi lebih rendah
daripada rasionalisasi.
6. Introyeksi
Introyeksi adalah memasukan dalam
pribadi dirinya sifat-sifat pribadi orang lain. Misalnya seoarang wanita
mencintai seorang pria, lalu ia memasukan pribadi pria tersebut ke dalam
pribadinya.
7. Reaksi konversi
Secara singkat mengalihkan konflik
ke alat tubuh atau mengembangkan gejala fisik.
8. Represi
Represi adalah konflik pikiran,
impuls-impuls yang tidak dapat diterima dengan paksaan ditekan ke dalam alam
tidak sadar dan dengan sengaja melupakan.
9. Supresi
Supresi yaitu menekan konflik,
impuls yang tidak dapat diterima secara sadar. Individu tidak mau memikirkan
hal-hal yang kurang menyenangkan dirinya.
10. Denial
Denial adalah mekanisme perilaku
penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
11. Regresi
Regresi adalah mekanisme perilaku
seseorang yang apabila menghadapi konflik frustasi, ia menarik diri dari
pergaulan dengan lingkunganya.
12. Fantasi
Fantasi adalah apabila seseorang
menghadapi konflik-frustasi, ia menarik diri dengan berkhayal/berfntasi,
misalnya dengan lamunan.
13. Negativisme
Adalah perilaku seseorang yang
selalu bertentangan/menentang otoritas orang lain dengan perilaku tidak terpuji.
14. Sikap mengkritik orang lain
Bentuk pertahanan diri untuk
menyerang orang lain dengan kritikan-kritikan. Perilaku ini termasuk perilaku
agresif yang aktif (terbuka).
d. Pendekatan Problem-solving terhadap
stress
Coping strategy
koping yang digunakan individu
secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau stressor yang
dihadapinya. Metode koping bisa diperoleh dari proses belajar dan beberapa
relaksasi. Jika individu menggunaan strategi koping yang efektif dan cocok
dengan stressor yang dihadapinya, stressor tersebut
tidak akan menimbulkan sakit (disease), tetapi stressor tersebut
akan menjadi suatu stimulan yang memberikan wellness dan
prestasi.
Strategi
koping yang berhasil mengatasi stres harus memiliki empat komponen pokok:
1. Peningkatan
kesadaran terhadap masalah: mengetahui dan memahami masalah serta teori yang
melatarbelakangi situasi yang tengah berlangsung.
2. Pengolahan
informasi: suatu pendekatan dengan cara mengalihkan persepsi sehingga ancaman
yang ada akan diredam. komponen ini meliputi pengumulan informasi dan
pengkajian sumber daya yang ada untuk memecahkan masalah.
3. Pengubahan
perilaku: suatu tindakan yang dipilih secara sadar dan bersifat positif, yang
dapat meringankan, meminimalkan, atau menghilangkan stressor.
4. Resolusi
damai: suatu perasaan bahwa situasi telah berhasil di atasi.
sumber :