Nama : Rini Hasanah
NPM : 17513741
Kelas : 2PA16
Mata Kuliah : Kesehatan Mental (Softskill)
1. PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG
NPM : 17513741
Kelas : 2PA16
Mata Kuliah : Kesehatan Mental (Softskill)
1. PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG
A.
penyesuaian diri dalam lingkungan kerja
Dari segi pandangan psikologi,
penyesuaian diri memiliki banyak arti seperti pemuasan kebutuhan, ketrampilan
dalam menangani frustasi atau konflik, ketenangan pikiran atau jiwa, atau
bahkan pembentukan simtonsimton. (Yustinus Semiun, 2006:36).
Penyesuaian diri adalah cara
individu atau khusus organisasi dalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari
dalam atau situasi-situasi dari luar (Yustinus Semiun, 2006:37).
Menurut Musthafa Fahmy, (1982:14),
penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah proses dinamika yang bertujuan
untuk mengubah perilaku hidup agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara
dirinya dan lingkungan kerja. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah kita
memberikan
batasan kepada fakta tersebut dengan kemampuan untuk membuat hubungan-hubungan
yang menyenangkan antara manusia dan lingkungannya.
Dapat disimpulkan bahwa penyesuaian
diri dalam lingkungan kerja adalah suatu cara individu dalam bereaksi terhadap
tuntutan atau situasi dari dalam maupun dari luar agar lebih sesuai dengan
dirinya dan lingkungan kerja.
Penyesuaian diri adalah relatif
karena tidak ada orang yang dapatmenyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian
diri itu harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan
menanggulangi tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurutkepribadian
dan tingkat perkembangan.
Singkatnya, meskipun memiliki
kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan
baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat
memecahkan konflikkonflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa
menggunakan tingkah laku simtomatik.
Penyesuaian diri yang baik juga
mengandung suatu tingkat pengusaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan
mengatur respon-respon pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan,
dan frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau
yang menguasai. Istilah tersebut meliputi menguasai diri sendiri sehingga
dorongan-dorongan, emosi–emosi, dan kebiasaan–kebiasaan dapat dikendalikan,
juga berarti menguasai lingkungan yaitu kemampuan untuk menangani kenyataan
secara sehat dan adekuat dan menggunakan lingkungan orang-orang dan
peristiwa-peristiwa dalam cara yang menyebabkan individu dapat menyesuaiakan
diri.
Lingkungan mencangkup semua
pengaruh, kemungkinan dan kekuatan yang melindungi individu, yang dapat
mempengaruhi usahanya dalam mencapai kestabilan kejiwaan dan jasmani dalam
kehidupannya.
Lingkungan ini mempunyai tiga segi,
yaitu lingkungan alami dan materi, lingkungan sosial, kemudian individu dengan
segala komponennya, bakat, pembawaan dan pikirannya tentang dirinya.
Aspek-aspek
penyesuaian diri
Musthafa
Fahmy, 1982, membagi penyesuaian diri menjadi dua aspek,
yaitu:
a.
Penyesuaian pribadi.
Penyesuaian pribadi adalah,
penerimaan individu terhadap dirinya, tidak memiliki rasa benci dan tidak
percaya diri. Respon penyesuaian diri baik atau buruk secara sederhana dapat
dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjahui ketegangan
dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan yang lebih wajar.
Penyesuaian pribadi merupakan
penyesuaian pada diri sendiri yang terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1)
Penyesuaian diri fisik dan emosi yaitu penyesuaian yang melibatkan respon fisik
dan emosional yang meliputi kematangan emosi dan kontrol emosi.
2)
Penyesuaian diri seksual, yaitu penyesuaian yang berhubungan dengan realitas
seksual berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin secara biologis dan psikologis
yang berupa dorongan (impuls/nafsu) atau hasrat untuk bisa menerima
kondisi dirinya, karena jika kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka akan terjadi
konflik yaitu berupa pertentangan antara dua atau lebih harapan yang diinginkan
dengan keadaan yang sebenarnya.
3)
Penyesuaian diri moral dan agama, penyesuaian moral yaitu penyesuaian berupa
kemampuan individu untuk memenuhi norma atau nilai dan etika moralitas yang ada
dilingkungan secara efektif sehingga individu merasa tidak dikesampingkan dalam
kehidupan bermasyarakat. Sedangkan penyesuaian agama adalah penyesuaian terhadap
nilai-nilai religius yang berlaku dalam kehidupan keberagamaan yang dianut oleh
individu bersangkutan. Antara moral dan agama saling berhubungan dan tidak bisa
dipisahkan.
b.
Penyesuaian sosial.
Dalam lapangan psikologi sosial,
proses ini dikenal dengan nama “proses penyesuaian sosial”. Penyesuaian sosial
terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi
dengannya. Penyesuaian sosial yang terjadi ini bersifat membentuk eksistensi
diri dalam masyarakat bagi individu tersebut.
Penyesuaian sosial diartikan sebagai
keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain dan kelompok
yang melibatkan aspek khusus dari kelompok sosial yang meliputi keluarga,
pekerjaan dan masyarakat.
Penyesuaian diri yang baik yang
selalu ingin diraih oleh setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila
kehidupan orang tersebut benarbenar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan
ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi
kesukaran
dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati
kehidupanya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan
berprestasi.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi penyesuaian diri
Penyesuaian
adalah proses dinamika yang terus menerus , proses tersebut dimulai sejak
lahir, sampai kepada masa dewasa, faktor yang mempengaruhi penyesuaian individu
adalah:
a.
Penyesuaian dan tuntutan (kejiwaan) pertumbuhan.
b.
Penyesuaian dan pemuasan kebutuhan.
c.
Memperoleh kebiasaan, ketrampilan, sikap dan nilai selama proses pertumbuhan,
mempunyai saham dalam proses penyesuaian pribadi dan sosial. (Musthafa Fahmy,
1982:36).
B. Waktu Luang
Definisi pengisian waktu luang adalah suatu
kegiatan yang dilakukan dengan bebas tanpa bayaran, dan kegiatan ini memberikan
kepuasan kepad pelakunya yang dilakukan selama waktu-waktu yang dapat disisakan
dari memenuhi kebutuhan penghidupan dan pemeliharaan hidup, tuntutan sosial
maupun tuntutan lembaga lain.
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam
memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang ialah :
1. Waktu
2. Tuntutan sosial. Ini berasal dari keinginan keluarga, teman,
kelompok, adat istiadat, norma lingkungan, lingkungan kerja, lingkungan sosial
lainnya.
3. Dukungan dana
4. Pengalaman masa lampau
5. Tersedianya atau ditawarkannya berbagai pilihan kegiatan
6. Tersedianya lahan
7. Kemampuan
8. Kebutuhan psikologis masing-masing pelaku
9. Falsafah dan nilai yang dimiliki
10. Pengaruh lingkungan fisik maupun budaya setempat
11. Sikap masyarakat dan budaya terhadap kegiatan-kegiatann
tertentu.
2. SELF-DIRECTED CHANGES
A. Konsep dan Penerapan
Self-Directed Changes
Menurut teori kompetensi, langkah
yang merupakan elemen mendasar untuk mengajarkan atau meninhkatkan kompetisi
orang dewasa (Competence At Work,1993). Biasanya disebut juga dengan istilah “Self
Direction Change Theory”.
Teori ini mengajarkan tentang
bagaimana kita bisa mengubah diri kita ke arah yang lebih baik dari kenyataan
hidup yang kurang mendukung seperti stress.
Menurut teori ini juga, orang dewasa
akann berubah jika berada dalm kondisi
merasa tidak puas dengan konsidi actual yang dihadapi, memiliki gambaran
yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin diraih/dikehendaki dan memiliki
konsep yang jelas tentang apa yang akan dilakukan untuk bergerak dari kondisi actual
menuju kondisi ideal.
Self
Directed Changes memiliki tahapan, diantara yaitu :
1. Meningkatkan
konsidi control
Hurlock mengatakan “control diri
berkaitan dengan bagaimana individu-individu mengendalikan emosi serta
doronga-dorongan dalam dirinya”. Control social itu sendiri adalah individu
sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang.
2. Menetapkan
tujuan
Sebagai manusia kita harus memiliki
tujuan. Dengan menetapkan tujuan kita bisa melakukan sesuatu yang diharapakan
bisa mecapai tujuan kita tersebut.
3. Pencatatan
perilaku
Untuk mengubah suatu kebiasaan buruk,
kita bisa mencatat kebisasaan buruk yang kita lakukan dan mengubahnya menjadi
yang lebih baik. Hal tersebut bisa mengarahkan kita untuk mencapai tujuan.
4. Menyaring
anteseden perilaku
Menyaring anteseden perilaku adalah
menuliskan kebiasaan yang ingin kita perbaiki.
5. Menyusun
konsekuensi yangg efektif
Dengan menyusun konsekuensi kita bisa
meningkatkan pengendalian diri, sehingga orang lain dapat menerimanya.
6. Menerapkan
pencana intervensi
Membandingkan seberapa berhasilkah kita
mencapai tujuan-tujuan yang kita kehendaki.
7. Evaluasi
Evaluasi adalh melihat berapa besar
kemajuan yang sudah kita lakuakan yntuk perubahan yang lebih baik. Jika memang
ada tahapan yang belum bisa terpenuhi lebih baik kita mengulang tahapan-tahapan
tersebut agar tujuan yang kita harapkan tercapai.
Daftar pustaka :
Mochamad Ely Yusuf (2008), Skripsi : HUBUNGAN
ANTARA PENYESUAIAN DIRI DALAM LINGKUNGAN
KERJA DENGAN MANAJEMEN KONFLIK DI KALANGAN KARYAWAN
UD. SIDO MUNCUL BLITAR, Malang.