Jumat, 26 Juni 2015

Pekerjaan, Waktu Luang dan Self Directed Changes

Nama : Rini Hasanah
NPM  : 17513741
Kelas  : 2PA16
Mata Kuliah : Kesehatan Mental (Softskill)


1. PEKERJAAN DAN WAKTU LUANG

A. penyesuaian diri dalam lingkungan kerja
            Dari segi pandangan psikologi, penyesuaian diri memiliki banyak arti seperti pemuasan kebutuhan, ketrampilan dalam menangani frustasi atau konflik, ketenangan pikiran atau jiwa, atau bahkan pembentukan simtonsimton. (Yustinus Semiun, 2006:36).
            Penyesuaian diri adalah cara individu atau khusus organisasi dalam bereaksi terhadap tuntutan-tuntutan dari dalam atau situasi-situasi dari luar (Yustinus Semiun, 2006:37).
            Menurut Musthafa Fahmy, (1982:14), penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah proses dinamika yang bertujuan untuk mengubah perilaku hidup agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara dirinya dan lingkungan kerja. Berdasarkan pengertian tersebut dapatlah kita
memberikan batasan kepada fakta tersebut dengan kemampuan untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dan lingkungannya.
            Dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri dalam lingkungan kerja adalah suatu cara individu dalam bereaksi terhadap tuntutan atau situasi dari dalam maupun dari luar agar lebih sesuai dengan dirinya dan lingkungan kerja.
            Penyesuaian diri adalah relatif karena tidak ada orang yang dapatmenyesuaikan diri secara sempurna. Penyesuaian diri itu harus dinilai berdasarkan kapasitas individu untuk mengubah dan menanggulangi tuntutan yang dihadapi dan kapasitas ini berbeda-beda menurutkepribadian dan tingkat perkembangan.
            Singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflikkonflik, frustasi-frustasi dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik.
            Penyesuaian diri yang baik juga mengandung suatu tingkat pengusaan, yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengatur respon-respon pribadi sedemikian rupa sehingga konflik-konflik, kesulitan-kesulitan, dan frustasi-frustasi akan hilang dengan munculnya tingkah laku yang efisien atau yang menguasai. Istilah tersebut meliputi menguasai diri sendiri sehingga dorongan-dorongan, emosi–emosi, dan kebiasaan–kebiasaan dapat dikendalikan, juga berarti menguasai lingkungan yaitu kemampuan untuk menangani kenyataan secara sehat dan adekuat dan menggunakan lingkungan orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam cara yang menyebabkan individu dapat menyesuaiakan diri.
            Lingkungan mencangkup semua pengaruh, kemungkinan dan kekuatan yang melindungi individu, yang dapat mempengaruhi usahanya dalam mencapai kestabilan kejiwaan dan jasmani dalam kehidupannya.
            Lingkungan ini mempunyai tiga segi, yaitu lingkungan alami dan materi, lingkungan sosial, kemudian individu dengan segala komponennya, bakat, pembawaan dan pikirannya tentang dirinya.

Aspek-aspek penyesuaian diri
Musthafa Fahmy, 1982, membagi penyesuaian diri menjadi dua aspek,
yaitu:
a. Penyesuaian pribadi.
            Penyesuaian pribadi adalah, penerimaan individu terhadap dirinya, tidak memiliki rasa benci dan tidak percaya diri. Respon penyesuaian diri baik atau buruk secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjahui ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan yang lebih wajar.
            Penyesuaian pribadi merupakan penyesuaian pada diri sendiri yang terdiri dari tiga bagian, yaitu:
1) Penyesuaian diri fisik dan emosi yaitu penyesuaian yang melibatkan respon fisik dan emosional yang meliputi kematangan emosi dan kontrol emosi.
2) Penyesuaian diri seksual, yaitu penyesuaian yang berhubungan dengan realitas seksual berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin secara biologis dan psikologis yang berupa dorongan (impuls/nafsu) atau hasrat untuk bisa menerima kondisi dirinya, karena jika kondisi ini tidak dapat dipenuhi maka akan terjadi konflik yaitu berupa pertentangan antara dua atau lebih harapan yang diinginkan dengan keadaan yang sebenarnya.
3) Penyesuaian diri moral dan agama, penyesuaian moral yaitu penyesuaian berupa kemampuan individu untuk memenuhi norma atau nilai dan etika moralitas yang ada dilingkungan secara efektif sehingga individu merasa tidak dikesampingkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan penyesuaian agama adalah penyesuaian terhadap nilai-nilai religius yang berlaku dalam kehidupan keberagamaan yang dianut oleh individu bersangkutan. Antara moral dan agama saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan.


b. Penyesuaian sosial.
            Dalam lapangan psikologi sosial, proses ini dikenal dengan nama “proses penyesuaian sosial”. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengannya. Penyesuaian sosial yang terjadi ini bersifat membentuk eksistensi diri dalam masyarakat bagi individu tersebut.
            Penyesuaian sosial diartikan sebagai keberhasilan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap orang lain dan kelompok yang melibatkan aspek khusus dari kelompok sosial yang meliputi keluarga, pekerjaan dan masyarakat.
            Penyesuaian diri yang baik yang selalu ingin diraih oleh setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benarbenar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi
kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupanya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri
Penyesuaian adalah proses dinamika yang terus menerus , proses tersebut dimulai sejak lahir, sampai kepada masa dewasa, faktor yang mempengaruhi penyesuaian individu adalah:
a. Penyesuaian dan tuntutan (kejiwaan) pertumbuhan.
b. Penyesuaian dan pemuasan kebutuhan.
c. Memperoleh kebiasaan, ketrampilan, sikap dan nilai selama proses pertumbuhan, mempunyai saham dalam proses penyesuaian pribadi dan sosial. (Musthafa Fahmy, 1982:36).

B. Waktu Luang
Definisi pengisian waktu luang adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan bebas tanpa bayaran, dan kegiatan ini memberikan kepuasan kepad pelakunya yang dilakukan selama waktu-waktu yang dapat disisakan dari memenuhi kebutuhan penghidupan dan pemeliharaan hidup, tuntutan sosial maupun tuntutan lembaga lain.
Hal-hal yang perlu di pertimbangkan dalam memilih kegiatan untuk mengisi waktu luang ialah :
1. Waktu
2. Tuntutan sosial. Ini berasal dari keinginan keluarga, teman, kelompok, adat istiadat, norma lingkungan, lingkungan kerja, lingkungan sosial lainnya.
3. Dukungan dana
4. Pengalaman masa lampau
5. Tersedianya atau ditawarkannya berbagai pilihan kegiatan
6. Tersedianya lahan
7. Kemampuan
8. Kebutuhan psikologis masing-masing pelaku
9. Falsafah dan nilai yang dimiliki
10. Pengaruh lingkungan fisik maupun budaya setempat
11. Sikap masyarakat dan budaya terhadap kegiatan-kegiatann tertentu.

2. SELF-DIRECTED CHANGES

A. Konsep dan Penerapan Self-Directed Changes
            Menurut teori kompetensi, langkah yang merupakan elemen mendasar untuk mengajarkan atau meninhkatkan kompetisi orang dewasa (Competence At Work,1993). Biasanya disebut juga dengan istilah “Self Direction Change Theory”.
            Teori ini mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri kita ke arah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung seperti stress.
            Menurut teori ini juga, orang dewasa akann berubah jika berada dalm kondisi  merasa tidak puas dengan konsidi actual yang dihadapi, memiliki gambaran yang jelas tentang kondisi ideal yang ingin diraih/dikehendaki dan memiliki konsep yang jelas tentang apa yang akan dilakukan untuk bergerak dari kondisi actual menuju kondisi ideal.
Self Directed Changes memiliki tahapan, diantara yaitu :
1.      Meningkatkan konsidi control
Hurlock mengatakan “control diri berkaitan dengan bagaimana individu-individu mengendalikan emosi serta doronga-dorongan dalam dirinya”. Control social itu sendiri adalah individu sebagai pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang.
2.      Menetapkan tujuan
Sebagai manusia kita harus memiliki tujuan. Dengan menetapkan tujuan kita bisa melakukan sesuatu yang diharapakan bisa mecapai tujuan kita tersebut.
3.      Pencatatan perilaku
Untuk mengubah suatu kebiasaan buruk, kita bisa mencatat kebisasaan buruk yang kita lakukan dan mengubahnya menjadi yang lebih baik. Hal tersebut bisa mengarahkan kita untuk mencapai tujuan.
4.      Menyaring anteseden perilaku
Menyaring anteseden perilaku adalah menuliskan kebiasaan yang ingin kita perbaiki.
5.      Menyusun konsekuensi yangg efektif
Dengan menyusun konsekuensi kita bisa meningkatkan pengendalian diri, sehingga orang lain dapat menerimanya.
6.      Menerapkan pencana intervensi
Membandingkan seberapa berhasilkah kita mencapai tujuan-tujuan yang kita kehendaki.
7.      Evaluasi
Evaluasi adalh melihat berapa besar kemajuan yang sudah kita lakuakan yntuk perubahan yang lebih baik. Jika memang ada tahapan yang belum bisa terpenuhi lebih baik kita mengulang tahapan-tahapan tersebut agar tujuan yang kita harapkan tercapai.


Daftar pustaka :
Mochamad Ely Yusuf (2008), Skripsi : HUBUNGAN ANTARA PENYESUAIAN DIRI DALAM    LINGKUNGAN KERJA DENGAN MANAJEMEN KONFLIK DI KALANGAN        KARYAWAN UD. SIDO MUNCUL BLITAR, Malang.


Kamis, 11 Juni 2015

SOFTSKILL KESEHATAN MENTAL TUGAS KE-3

TUGAS KE-3
Nama    : Rini Hasanah
NPM     : 17513741
Kelas     : 2PA16
Fakultas : Psikologi

KESEHATAN MENTAL

1. Hubungan Intrapersonal
            Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship.
            Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.

a.    Model-model hubungan personal

        Terdapat 4 model hubungan intrapersonal, yaitu :

   1.         Model Pertukaran Sosial (social exchange model)
        Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam hubungan tersebut akan menghasilkan ganjaran (akibat positif) atau biaya (akibat negatif) serta hasil atau laba (ganjaran dikurangi biaya).

        2.    Model Peranan (role model)
Model peranan menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang memainkan peranannya sesuai naskah yang dibuat masyarakat. Hubungan akan dianggap baik bila individu bertindak sesuai ekspetasi peranan (role expectation), tuntutan peranan (role demands), memiliki keterampilan (role skills) dan terhindar dari konflik peranan.

3.    Model Interaksional
Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat strukural, integratif dan medan. Semua system terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai suatu kesatuan.

b. Memulai Hubungan

    tahap-tahap untuk menjalin hubungan interpersonal, yaitu:
1.            Tahap pembentukan
Tahap ini juga dikenal dengan tahap perkenalan. Tahap awal yang dilakukan adalah mencari tahu identitas orang yang dituju kemudian jika menemui kecocokan tahap selanjutnya adalah mencari tahu data demografis orang yang dituju.
Menurut Charles R. Berger informasi pada tahap perkenalan dapat dikelompokkan pada tujuh kategori, yaitu: a) informasi demografis; b) sikap dan pendapat (tentang orang atau objek); c) rencana yang akan datang; d) kepribadian; e) perilaku pada masa lalu; f) orang lain; serta g) hobi dan minat.

2.            Tahap Peneguhan Hubungan
Hubungan interpersonal selalu berubah-ubah, oleh karena itu untuk memelihara hubungan tersebut dibutuhkan untuk mengembalikan keseimbanan, beberapa faktor yakni :
a)      Keakraban  : Pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang
b)      Kontrol       : Kesepakatan pengontrolan
c)      Respon yang Tepat : Ketepatan respon dalam pesan verbal maupun nonverbal
d)     Nada Emosional yang Tepat : Keserasian suasana emosional ketika komunikasi sedang berlangsung

3.            Tahap Pemutusan Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:

      a. Kompetisi : dimana salah satu pihak berusaha memperoleh sesuatu dengan mengorbankan                          orang lain. Misalnya, menunjukkan kelebihan dalam bidang tertentu dengan merendahkan                    orang lain.
      b. Dominasi  : dimana salah satu pihak berusaha mengendalikan pihak lain sehingga orang                                tersebut merasakan hak-haknya dilanggar.
     c. Kegagalan : dimana masing-masing berusaha menyalahkan yang lain apabila tujuan bersama                       tidak tercapai. 
     d. Provokasi, dimana salah satu pihak terus-menerus berbuat sesuatu yang ia ketahui                                          menyinggung perasaan yang lain.
     e. Perbedaan nilai :  dimana kedua pihak tidak sepakat tentang nilai-nilai yang mereka anut.

c. Hubungan Peran

1.    Model Peran
Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.
2.    Konflik
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi. Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut.
3.    Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
4.    Intimasi dan Hubungan Pribadi
Sebagai konsekuensi adanya daya tarik menyebabkan interaksi sosial antar individu menjadi spesifik atau terjalin hubungan intim. Adapun bentik intim terdiri dari persaudaraan, persahabatan, dan percintaan.

d.   Intimasi dan Hubungan Pribadi

•    Intimasi ( kelekatan atau keakraban ) atau sering disebut juga sebagai   proximity, propinquity. Orang yang mempunyai kesempatan paling sering kita jumpai adalah orang yang sangat mungkin menjadi sahabat kita atau kita cintai ( Berscheid & Reis, 1998 ). Semakin sering kita melihat dan berinteraksi dengan seseorang, semakin besar kemungkinan orang itu menjadi sahabat kita.
Festinger dkk (1950) menunjukkan bahwa ketertarikan dan kedekatan hubungan tidak hanya tergantung pada fisik yang nyata, melainkan juga karena jarak fungsional. Jarak fungsional menunjuk pada aspek desain arsitektur yang memungkinkan beberapa orang bertemu lebih sering. Efek keakraban terjadi karena familiaritas. Semakin sering kita mengalami eksposur suatu stimulus, semakin besar kecenderungan kita untuk menyukainya.

•    Hubungan Pribadi
Ada dua hal yang mengawali suatu hubungan pribadi, yaitu kondisi suka dan cinta. Hal ini berbeda menurut beberapa ahli psikologi seperti Rubin, menurutnya :
-    Kesukaan lebih didasarkan pada afeksi dan respek. Hal ini dikaitkan dengan kesepakatan tentang kualitas positif seorang teman dan kebutuhan untuk menjadi sama dengan teman tersebut.
-    Kecintaan  bersandar pada keintiman, kelekatan dan peduli terhadap kesejahteraan pihak lain. Berawal dari hal – hal tersebut, terbentuklah suatu hubungan seperti relasi sosial dan pasangan hidup. Baik relasi jangka pendek maupun jangka panjang.
           Dalam suatu hubungan juga perlu adanya companionate love, passionate love dan intimacy love. Karena apabila kurang salah satu saja di dalam suatu hubungan atau mungkin hanya salah satu di antara ketiganya itu di dalam suatu hubungan maka yang akan terjadi adalah hubungan tersebut tidak akan berjalan dengan langgeng atau awet, justru sebaliknya setiap pasangan tidak merasakan kenyamanan dari pasangannya tersebut sehingga yang terjadi adalah hubungan tersebut bubar dan tidak akan ada lagi harapan untuk membangun hubungan yang harmonis dan langgeng.

e.    Intimasi dan Pertumbuhan 

Hal yang mempengaruhi keintiman itu tumbuh adalah cinta. Dan keintiman tidak akan tumbuh jika tidak ada cinta. Keintiman adalah proses menyatakan siapakah kita sebenarnya kepada rang lain, keintiman juga suatu kebebasan menjadi diri sendiri. Dan keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim.  Namun banyak respon alami kita adalah menolak untuk terbuka terhadap pasangan karena beberapa hal, yakni :  
        1.   Tidak mengenal dan menerima siapa diri kita secara utuh. 
        2.   Tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan menuju pernikahan. 
        3.   Tidak mempercayai pasangan dalam memegang rahasia.
        4.   Kita dibentuk menjadi seseorang yang berkepribadian tertutup. 
        5.   Memulai hubungan atau pacaran bukan dengan cinta yang tulus.

2.      Cinta dan Perkawinan

Cinta

Dari hubungan interpersonal dengan berbagai faktor yang dikemukakan diatas, jika terjadi hubungan yang berkelanjutan maka akan terjadi/terjalin hubungan interpersonal lanjutan yakni cinta. Cinta Menurut Izard (Strongman, 1998) dapat mendatangkan segala jenis emosi, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan sebagai proses lanjutan dari hubungan interpersonal yang terjalin antara dua orang manusia berlawanan jenis.

Stenberg mengemukakan bahwa cinta memiliki tiga dimensi, yaitu hasrat, keintiman, dan komitmen.

1.      Hasrat, dalam dimensi hasrat menekankan pada intensnya perasaan serta perassan yang muncul dari daya tarik fisik dan daya tarik seksual. Pada jenis cinta ini, seseorang mengalami ketertarikan fisik secara nyata, selalu memikirkan orang yang dicintainya sepanjang waktu, merasa sangat bahagia dan lain-lain.
2.      Keintiman, dimensi ini tertuju pada kedekatan perasaan antara dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk bersama.
3.      Komitmen/keputusan, dimensi komitmen dimana seseorang berkeputusan untuk tetap bersama dengan seorang pasangan dalam hidupnya.

Pernikahan

            Dalam proses hubungan interpersonal yang lanjut dengan adanya cinta untuk mencapai pernikahan bisanya dimensi cinta dihasilkan dari cinta yang berdimensi komitmen/keputusan. Pasangan memiliki hasrat untuk membagi dirinya dalam hubungan yang berlanjut dan hangat. Pernikahan adalah sebuah komitmen yang serius antarpasangan dan biasanya dengan mengadakan pesta pernikahan, berarti secara sosial diakui bahwa saat itu pasangan telah resmi menjadi suami istri. Duvall dan miller (1985) menjelaskan bahwa pernikahan adalah hubungan pria dan wanita yang diakui secara sosial, yang ditujukan untuk melegalkan hubungan seksual, melegitimasi membesarkan anak, dan membangun pembagian peran di antara sesama pasangan.

a.       Memilih Pasangan
      Pendekatan evolusioner dalam hal cinta merupakan teori yang diturunkan dari teori biologi evolusioner yang mendukung pandangan bahwa laki-laki dan perempuan tertatrik satu sama lain dengan karakteristik yang berbeda: laki-laki tertarik pada penampilan fisik perempuan; perempuan tertarik pada sumber daya yang dimiliki laki-laki. Hal ini untuk memaksimalkan kesuksesan reproduksi. 
      Beberapa penelitian hasilnya mendukung pendekatan evolusioner tersebut. Misalnya hasil penelitian Bush dkk (Bus 1989; Buss dkk, 1990) dengan subjek dari 37 negara yang menanyakan berbagai kriteria pemilihan pasangan (untuk menikah) dan seberapa penting kriteria tsb, pada umumnya perempuan menilai kriteria ambisius, rajin, penghasilan yang baik lebih tinggi (penting) daripada subjek laki-laki, dan subjek laki-laki menilai lebih penting daya tarik fisik. Bagaimanapun perlu dicatat bahwa berbagai penelitian menyatakan bahwa karakteristik paling tinggi pada laki-laki maupun perempuan adalah kejujuran, dapat dipercaya, dan kepribadian yang baik.

b.      Hubungan Dalam Perkawinan

       1. Romantic Love
           Saat ini adalah saat Anda dan pasangan merasakan gelora cinta yang menggebu-gebu. Ini                    terjadi di saat bulan madu pernikahan. Anda dan pasangan pada tahap ini selalu melakukan                  kegiatan bersama-sama dalam situasi romantis dan penuh cinta.

        2.  Dissapointment or Distress
             Di tahap ini pasangan suami istri kerap saling menyalahkan, memiliki rasa marah dan kecewa              pada pasangan, berusaha menang atau lebih benar dari pasangannya. Terkadang salah satu                  dari pasangan yang mengalami hal ini berusaha untuk mengalihkan perasaan stres yang                        memuncak dengan menjalin hubungan dengan orang lain, mencurahkan perhatian ke                            pekerjaan, anak atau hal lain sepanjang sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing.                Menurut Dawn tahapan ini bisa membawa pasangan suami-istri ke situasi yang tak                              tertahankan lagi terhadap hubungan dengan pasangannya. Banyak pasangan di tahap ini                      memilih berpisah dengan pasangannya.

        3.  Knowledge and Awareness
             Pasangan suami istri yang sampai pada tahap ini akan lebih memahami bagaimana posisi dan              diri pasangannya. Pasangan ini juga sibuk menggali informasi tentang bagaimana                                kebahagiaan pernikahan itu terjadi. Pasangan yang sampai di tahap ini biasanya senang untuk              meminta kiat-kiat kebahagiaan rumah tangga kepada pasangan lain yang lebih tua atau                        mengikuti seminar-seminar dan konsultasi perkawinan.

         4.  Transformation
              Suami istri di tahap ini akan mencoba tingkah laku yang berkenan di hati pasangannya. Anda               akan membuktikan untuk menjadi pasangan yang tepat bagi pasangan Anda. Dalam tahap ini               sudah berkembang sebuah pemahaman yang menyeluruh antara Anda dan pasangan dalam                 mensikapi perbedaan yang terjadi. Saat itu, Anda dan pasangan akan saling menunjukkan                     penghargaan, empati dan ketulusan untuk mengembangkan kehidupan perkawinan yang                       nyaman dan tentram.

          5.  Real Love
               “Anda berdua akan kembali dipenuhi dengan keceriaan, kemesraan, keintiman,                                    kebahagiaan, dan kebersamaan dengan pasangan,” ujar Dawn. Psikoterapis ini menjelaskan                pula bahwa waktu yang dimiliki oleh pasangan suami istri seolah digunakan untuk saling                    memberikan perhatian satu sama lain. Suami dan istri semakin menghayati cinta kasih                          pasangannya sebagai realitas yang menetap. “Real love sangatlah mungkin untuk Anda dan                pasangan jika Anda berdua memiliki keinginan untuk mewujudkannya. Real love tidak bisa                terjadi dengan sendirinya tanpa adanya usaha Anda berdua,” ingat Dawn.

c.       Penyesuaian dan Pertumbuhan Dalam Perkawinan

      Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak. Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis. Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian. Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.

d.  Perceraian dan Pernikahan Kembali

            Pernikahan bukanlah akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah pada akhirnya harus bercerai. Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.

Faktor penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
-          Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
-          Krisis moral dan akhlak
-          Perzinahan
-          Pernikahan tanpa cinta
-          Adanya masalah-masalah dalam perkawinan.
      Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
      Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
      Jika ingin sukses dalam pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan yang lebih baik.


e. Alternatif selain Menikah

            Ada juga beberapa orang yang memutuskan untuk tidak memiliki pasangan. Mungkin mereka beranggapan bahwa ketika kehidupan itu kita jalani dengan pasangan akan terasa sulit karena menemukan berbagai persoalan yang nantinya kemungkinan bisa saja kita hadapi. Akan tetapi hakikatnya menikah itu adalah ibadah. Hidup akan lebih indah melalui segala bentuk kehidupan bersama pasangan. Seseorang yang memutuskan untuk sendiri (single life) bisa saja disebabkan karena traumatik tersendiri yang pernah mereka rasakan sehingga membuatnya untuk tidak berani lagi memulai hidup secara bersama. Pengalaman memang berperan penting dalam kelangsungan hidup seseorang. Ia bisa mengubahnya menjadi lebih kuat namun tidak sedikit yang lemah karenanya. Membuat seseorang takut memulai, namun juga menimbulkan arti yang mendalam.