MANAJEMEN
¨ Pengertian Manajemen
George
R. Terry (1977) menyatakan “Manajemen adalah suatu proses yang berbeda terdiri
dari planning, organizing, actuating, dan controlling yang dilakukan untuk
mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan manusia dan sumber daya
lainnya”. Dengan kata lain, berbagai jenis kegiatan yang berbeda itulah yang
membentuk manajemen sebagai suatu proses yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan
sangat erat hubungannya.
Menurut
Stoner dan Wankel, Manajemen adalah proses merencanakan, mengorganisasikan,
memimpin, mengendalikan usaha – usaha anggota organisasi dan proses penggunaan
sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi yang sudah
ditetapkan.
Dalam
menggerakkan manajemen diperlukan unsur – unsur yang selama ini dikenalkan
dengan sebutan atau singkatan 5M, yaitu men (orang), material (materi),
machines (alat), methods (metode), dan money (uang).
¨ Pengertian Organisasi
Menurut
Soekarno dalam Almanak Lembaga Administrasi Negara 1960, Organisasi adalah
wadah ketika semua aktivitas administrasi dijalankan karena administrasi
merupakan keseluruhan proses kerja untuk mencapai tujuan organisasi yang
ditentukan.
Bernard
menyatakan bahwa organisasi adalah suatu system mengenai usaha – usaha
kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Sedangakan James D. Mooney merumuskan
bahwa organisasi adalah setiap bentuk perserikatan manusia untuk mencapai suatu
tujuan bersama.
Dari
pengertian menurut para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa organisasi
diwujudkan oleh adanya sekelompok orang yang berserikat dan bekerjasama untuk
mencapai suatu kepentingan yang telah disetujui bersama.
KOMUNIKASI
¨ Definisi komunikasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) mengartikan komunikasi sebagai ”pengiriman dan
pemerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang
dimaksud dapat dipahami”.
Para ahli komunikasi berbed-beda
redaksional dalam mendefinisikan komunikasi, seperti “pengalihan informasi
untuk memperoleh tanggapan” (JL. Aranguren), “koordinasi makna antara seseorang
dengan khalayak” (Melvin L DeFleur), dan “saling berbagi informasi,
gagasan, atau sikap” (Wilbur Schramm).
Pengertian komunikasi paling populer datang
dari Harold Lasswell, yakni “Who says what in which channel to whom and with
what effects”, siapa mengatakan apa melalui saluran mana kepada siapa dan
dengan pengaruh apa.
Definisi Lasswell dianggap paling lengkap karena sekaligus
menggambarkan proses dan elemen komunikasi, yakni komunikator (who), pesan
(what), media atau sarana (channel), komunikan (whom), dan pengaruh atau akibat
(effect).
¨
Dimensi
Komunikasi
v Dimensi Isi
Dimensi
isi disandi secara verbal dan menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa
yang dikatakan. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan.
v Dimensi Hubungan
Dimensi
hubungan disandi secara nonverbal dan menunjukkan bagaimana cara menunjukkan
dan mengisyarakatkan bagaimana proses komunikasi antara satu sama lain dan
bagaimana seharusnya pesan tersebut disampaikan. Dalam komunikasi massa dimensi
hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk juga jenis saluran yang
digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Contoh: pengaruh artikel dalam
surat kabar bukan bergantung pada isinya, namun bergantung juga pada siapa
penulisnya, jenis huruf yang digunakan, warna tulisan yang dipakai, dll.
v Dimensi Arah
Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu
komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan
satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik,
sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana satu orang memberikan
informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi, sehingga
terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.
v
Dimensi
kebisingan
Kebisingan
dapat mengganggu komunikasi yang dapat menyebabkan miscommunication Keatau
salah persepsi pada apa yang dikomunikasikan. Kebisingan dapat mengakibatkan
gangguan konsentrasi pekerja yang berakibat pekerja cenderung berbuat kesalahan
dan akhirnya menurunkan produktivitas kerja.
v Dimensi Jaringan
Jaringan
komunikasi merupakan faktor dalam situasi yang dapat bervariasi secara
independen dari tugas atau gaya kepemimpinan dalam kelompok, meskipun biasanya
erat terkait dengan itu. Ketika tugas membutuhkan jenis tertentu dari jaringan
komunikasi untuk kinerja optimal. gaya pemimpin cenderung untuk menempatkan
batasan pada frekuensi, durasi, dan arah komunikasi anggota. Namun, semua tiga
variabel. tugas, jaringan komunikasi, dan kepemimpinan, adalah serupa bahwa
mereka adalah cara untuk memanipulasi situasi untuk kelompok dengan menetapkan
norma-norma untuk bentuk dan isi interaksi.
Ada
beberapa cara untuk melihat jaringan komunikasi Pertama kita bisa
memikirkan semua komunikasi organisasi yaitu internal, eksternal keatas, ke
bawah, dan horizontal--sebagai jaringan yang dikelola dari arus informasi. Kedua
kita dapat melihat sistem komunikasi organisasi sebagai jumlah dari kelompok
subsistem jaringan komunikasi fungsional yang terkait dengan satu atau lebih
tujuan organisasi. Ketiga, kita dapat memeriksa kategori utama untuk
mengklasifikasikan tujuan yang berbeda dari anggota organisasi. Empat,
Kita bisa mempertimbangkan efek jaringan komunikasi tertentu pada kinerja
kelompok.
Mempengaruhi Perilaku
¨
Definisi Pengaruh
Norman Barrey (dalam
Budiardjo, 2008) mengatakan Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika
seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara
tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman
sanksi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya (influence is a
type of power in that a person who is influenced to act in a certain way may be
said to be caused so to act, even though an overt threat of santions will not
be the motivating force)
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia: ”pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari
sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau
perbuatan seseorang. Sedangkan definisi pengaruh menurut Stuart adalah:
”pengaruh atau efek adalah perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan, dan
dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan. (Cangara,
2002:163).
¨
Kunci-kunci Perubahan Perilaku
v Pikiran,
kunci perubahan perilaku
Manusia adalah makhluk mental. Semua aspek dalam
kehidupan kita ditentukan dan dikendalikan oleh kualitas pikiran kita. Saat
lahir kita diberi oleh Allah satu triliun sel otak. Semua manusia mempunyai
jumlah sel otak yang sama. Yang membuat hidup seseorang berbeda dengan yang
lain adalah kemampuan berpikir yang dimiliki masing-masing individu.
Pikiran adalah sebuah instrumen berpikir yang sangat
canggih. Sayangnya banyak orang kehilangan kendali atas instrumen ini.
Contohnya peristiwa ketika kita mengalami sulit tidur. Tubuh ingin
istirahat tetapi pikiran kita berkeliaran tanpa bisa kita kendalikan. Walaupum
kita berkata stop pada pikiran kita, pikiran tetap saja berlari semaunya
sendiri. Pikiran kita tidak mau menaati perintah kita dan kita tidak berdaya
mengendalikannya. Mengapa hal ini bisa terjadi ?.
Semua ini terjadi karena kita telah membiarkan pikiran
kita mengendalikan diri kita, dan bukan sebaliknya. Akibatnya pikiran kita
tidak dapat bekerja dengan benar. Kita harus belajar menggunakan pikiran kita
seperti kita menggunakan tangan dan kaki. Tangan dan kaki dapat kita kendalikan
dengan baik, bekerja demi kebaikan kita. Maka kita juga harus mampu
mengendalikan pikiran, bekerja demi keuntungan/kebaikan kita.
v Emosi juga
kunci perubahan perilaku
Apabila
individu bermaksud untuk mempengaruhi individu lain sebaiknya ia menyadari
bahwa ia sedang melaksanakan tugas emosional sebagai tugas intelektual;
perubahan pada individu, organisasi, masyarakat, selalu meliputi komponen yang
luas dari emosionalitas. Untuk mengubah perilaku, seseorang harus memliki motif
atau tujuan. Harus jelas motif atau tujuanya. Bentuk paling umum dari
ketidakjelasan motif untuk merubah seseorang bisa berasal dari : konflik
kebutuhan-kebutuhan jangka pendek dan panjang. Selain itu, pihak yang diubah
harus mempunyai kekuasaan untuk memutuskan apakah ia akan berubah atau tidak.
Seorang yang akan mengubah perilaku dapat mempengaruhi keputusan tapi tidak
dapat membuat keputusan.
Selama
proses perubahan perilaku seringkali orang yang akan diubah menjadi bingung
,apakah itu benar atau salah. Pihak yang mengubah perilaku seringkali keliru menginterpretasikan
sikap orang yang diubahnya. Melihat orang yang diubahnya bingung, dia berpikir
usaha-usaha perubahan yang dilakukanya telah gagal. Perilaku yang pada masa
lalu dianggap memadai, sekarang dianggap tidak memadai lagi, namun tidak ada alternatif
yang langsung tersedia sehingga timbul konflik. Apabila jalan yang ditempuh
oleh seseorang pada saat sekarang ini tampak tidak sebaik pada masa lalu karena
telah mulai tampak jalan baru yang lebih baik, maka akan menemukan konflik,
antara jalan lama yang aman dan jalan baru yang mengandung resiko. Untuk
mengubah perilaku, kita juga harus melakukan “diagnosa” : pengumpulan informasi
tentang orang yang akan dirubah, merupakan pedoman yang bermanfaat dalam
melakukan perubahan.
Mengetahui
hal-hal yang perlu diperhatikan. Siapa yang paling membutuhkan informasi
tentang suatu masalah yang akan dihadapi, seringkali pihak yang diubah lebih
membutuhkan informasi. Pihak yang mengubah mungkin sangat memahami betul seluk
beluk pihak yang diubah, tetapi mungkin dia tidak mampu mengkomunikasikan
kepada pihak yang diubah atau untuk merancang serangkaian tindakan yang
efektif. Selanjutnya, mengetahui Jenis informasi yang bagaimanakah yang
dibutuhkan oleh pihak yang merubah dan pihak yang diubah berhubungan dengan info
tentang fakta-fakta dan info-info tentang perasaan fakta-fakta dalam arti yang
biasa yaitu fenomena yang dapat diamati mungkin kurang penting dibandingkan
dengan perasaan atau tidak terjadi di dalam situasi yang sedang berubah.
Ketakutan, keragu-raguan, kepercayaan, ketidakmampuan, ambisi mungkin merupakan
info yang lebih penting bagi pihak-pihak pengubah perilaku dibandingkan dengan
fakta-fakta objektif tentang tugas-tugas atau golongan gaji. Dalam hal ini
pihak pengubah harus peka terhadap perilaku yang ditampilkan dari pihak yang
diubahnya. Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah berapa banyak
informasi yang perlu dicari. Jika kita menuntut sesuatu informasi yang sempurna
untuk suatu pengambilan keputusan, kita mungkin tidak akan pernah mencapai keputusan.
Maka jika pihak yang merubah butuh mengetahui tentang pihak yang akan
diubahnya, dia perlu dengan segera mengetahui faktor-faktor yang ada sangkut
pautnya dengan masalah yang ada.
¨
Model-model dalam Mempengaruhi
Perilaku Orang Lain dan Peranannya dalam Psikologi Manajemen
Cara mempengaruhi orang lain dengan dasar
Pendekatan Komunikasi Persuasi dikemukakan
oleh Aristotle yang menyatakan terdapat 3 pendekatan dasar dalam komunikasi
yang mampu mempengaruhi orang lain, yaitu;
1.
Logical argument (logos), yaitu penyampaian
ajakan menggunakan argumentasi data-data yang ditemukan. Hal ini telah
disinggung dalam komponen data.
2.
Psychological/ emotional argument (pathos), yaitu
penyampaian ajakan menggunakan efek emosi positif maupun negatif.
3.
Argument based on credibility (ethos), yaitu
ajakan atau arahan yang dituruti oleh komunikate/ audience karena komunikator
mempunyai kredibilitas sebagai pakar dalam bidangnya. Contoh, kita menuruti
nasehat medis dari dokter, kita mematuhi ajakan dari seorang pemuka agama, kita
menelan mentah-mentah begitu saja kuliah dari dosen. Hal ini semata-mata karena
kita mempercayai kepakaran seseorang dalam bidangnya.
Menurut Burgon & Huffner (2002), terdapat
beberapa pendekatan yang dapat dilakukan agar komunikasi persuasi menjadi lebih
efektif. Maksudnya lebih efektif yaitu agar lebih berkesan dalam mempengaruhi
orang lain. Beberapa pendekatan itu antaranya;
1. Pendekatan berdasarkan bukti, yaitu mengungkapkan data atau fakta yang
terjadi sebaga bukti argumentatif agar berkesan lebih kuat terhadap ajakan.
2. Pendekatan berdasarkan ketakutan, yaitu menggunakan fenomena yang
menakutkan bagi audience atau komunikate dengan tujuan mengajak mereka menuruti
pesan yang diberikan komunikator. Misalnya, bila terjadi kejadian luar biasa
(KLB) demam berdarah maka pemerintah dengan pendekatan ketakutan dapat
mempersuasi masyarakat untuk mencegah DBD.
3. Pendekatan berdasarkan humor, yaitu menggunakan humor atau fantasi
yang bersifat lucu dengan tujuan memudahkan masyarakat mengingat pesan
karena mempunyai efek emosi yang positif. Contoh, iklan-iklan yang menggunakan
bintang comedian atau menggunakan humor yang melekat di hati masyarakat.
4. Pendekatan berdasarkan diksi, yaitu menggunakan pilihan kata yang
mudah diingat (memorable) oleh audience/ komunikate dengan tujuan membuat
efek emosi positif atau negative. Misalnya, iklan rokok dengan diksi “nggak ada
loe nggak rame…”.
Namun
keempat pendekatan tersebut dapat dikombinasikan sesuai dengan tujuan persuasi
dari komunikator.
¨
Wewenang dan Peranan Wewenang dalam
Psikologi Manajemen
Wewenang merupakan kemampuan yang diterima untuk
mengambil keputusan dan untuk mendelegasikan suatu tundakan (atau tidak). Ada 2 pandangan berlawanan :
1. Teori formal/ pandangan klasik
wewenang adalah dianugerahkan, ada karena dilimpahi
2.
Teori
penerimaan wewenang muncul hanya jika diterima oleh kelompok atau individu
Jenis
Wewenang :
1. Wewenang lini
Wewenang
lini adalah wewenang dimana atasan melakukannya atas bawahannya langsung. Yaitu
atasan langsung memberi wewenang kepada bawahannya, wujudnya dalam wewenang
perintah dan tercermin sebagai rantai perintah yang diturunkan ke bawahan
melalui tingkatan organisasi.
2. Wewenang staff
Wewenang
staff adalah hak yang dipunyai oleh satuan-satuan staf atau para spesialis
untuk menyarankan, memberi rekomendasi, atau konsultasi kepada personalia ini.
Kualifikasi yang harus dipenuhi oleh orang yang duduk sebagai taf yaitu dengan
menganalisa melalui metode kuisioner, metode observasi, metode wawancara atau
dengan menggabungkan ketiganya.
3. Wewenang Staf
Fungsional (functional staff authority)
Wewenang
Staf Fungsional (functional staff authority) adalah hubungan terkuat
yang dapat dimiliki staf dengan satuan-satuan lini
Delegasi,
merupakan pelimpahan wewenang dan tanggungjawab formal kepada orang lain untuk
melaksanakan kegiatan tertentu. Delegasi wewenang adalah proses di mana para
manajer mengalokasikan wewenang ke bawah kepada orang-orang yang melapor
kepadanya.
Ada 4 kegiatan ketika
delegasi dilakukan :
1. Pendelegasi menetapkan
dan memberikan tujuan dan tugas kepada bawahan.
2. Pendelegasi
melimpahkan wewenamg yang diperlukan untuk mencapai tujuan.
3. Penerimaan delegasi
menimbulkan kewajiban dan tanggungjawab.
4. Pendelegasi
menerima pertanggungjawaban bawahan untuk hasil-hasil yang dicapai
Daftar Pustaka
Naja,
Hasanuddin R.D. (2004). Manajemen Fit and Proper Test. Pustaka Widyatama: Yogyakarta.
Herujito, Yayat
M. (2001). Dasar – Dasar Manajemen. PT. Grasindo: Jakarta.
Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama
Darmo. (2007).
Perpustakaan Sekolah Pendekatan Aspek Manajemen dan Tata Kerja. PT. Grasindo:
Jakarta.
Clegg, Brian. 2006. Instant Motivation 79 Cara Instan
Menumbuhkan Motivasi. Jakarta : Esensi

