PSIKOLOGI MANAJEMEN
A.
Kekuasaan
1.
Definisi kekuasaan
Para ahli mendefinisikan pengertian kekuasaan antara lain
sebagai berikut:
a.
R. Beirstedt : kekuasaan merupakan daya
kemampuan untuk menggunakan kekuatan
b.
M.F. Rogers : kekuasaan merupakan kesanggupan untuk mempengaruhi
c.
Amitai Etzioni : daya dalah kemampuan
untuk membujuk atau mempengaruhi
perilaku
Berdasarkan
pendapat para ahli tersebut diatas dikemukakan pengertian kekuasaan (power)
sebagai berikut :
· Kekuasaan
adalah kapasitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain kearah pencapaian
tujuan
· Kekuasaan
adalah otoritas atau kekuatan untuk mempengaruhi perilakuu individu atau
kelompok dan sumber daya untuk mencapai tujuan.
2.
Sumber-sumber kekuasaan menurut French
dan Raven
a. Reward
power (kekuasaan menghargai)
adalah kekuasaan
berdasarkan kemampuan untuk memberikan penghargaan atau imbalan yang dipandang
sebagai suatu yang berharga. Miksalnya kekuasaan pemimpin memberikan hadiah,
piala, bintang tanda jasa.
b. Coercive
power (kekuasaan memaksa)
adalah kekuasaan berdasarkan rasa
takut dengan menggunakan ancaman dan hukuman. Misalnya kekuasaan pemimpin untuk
menunda pembayaran gaji. Menunda kenaikan pangkat, dan memecat pegawai.
c. Legitimate
power (kekuasaan sah)
adalah kekuasaan berdasarkan
keudukan formal secara resmi dalam structural organisasi. Misalnya kekuasaan
manajer keuangan untuk melakaukan investasi.
d. Expert
power (kekuasaan ahli)
adalah kekuasaan berdasarkan
keahlian khusus tertentu yang bernilai tinggi, atau kemampuan dan keterampilan
yang dimiliknya dalam bidang tertentu. Misalnya kekuasaan pemimpin yang
memiliki ahli ekonomi, ahli politik, ukuntar dan dokter.
e. Referent
power (kekuasaan referensi)
adalah kekuasaan berdasarkan pada
kepemilikan sumber daya atau cirri kepribadian tertentu ynag diinginkan adan
diperlukan oleh individu atau kelompok lain. Misalnya kekuasaan pemimpin yang
sellau tampil dengan day atarik kepribadian seperti taqwa, jujur, disiplin.
B.
Leaderhip
1.
Definisi
Berbagai pendapat para ahli
mendefinisikan pengertian kepemimpinan (leadership) dengan analisa dari sudut
pandang yang berbeda, antara lain sebagai berikut :
a. Ordway
Tead (1935)
Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang
agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan.
b. Harold
Koontz & Cyrill O’Donnellc (1976)
Kepemimpinan adalah seni membujuk
bawahan unutk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan semangat
keyakinan.
c. Paul
Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1982)
Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha unutk mencapai tujuan
dalam situasi tertentu.
d. Gary
Yulk
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan dan
bagaimana tugas itu dapat dilakukan secara efektif, dan proses memfalitasi usaha
individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
e. John
C. Maxwell (1967)
Pemimpin adalah pengaruh,
kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain.
Berdasarkan pendapat para ahli
tersebut dapat dikemukakan beberapa pengertan
kepemimpinan (leadership) yang mudah difahami sebagai berikut :
·
Kepemimpinan adalah proses pengaruh
sosiall dalam hubungan interpersonal, penetapan keputusan dan pencapaian
tujuan.
·
Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi
perilaku orang lain kearah pencapaian tujuan.
2.
Teori-toeri kepemimpinan partisipatif
a. Teori
X dan teori Y dari Douglas McGregor
Salah satu model perilaku kepemimpinan adalh
teori X dan teori Y yang dikemukakan oleh Douglas McGregor. Toei X dan Y
didasarkan pada berbagai asumsi tentang para karyawan/pegawai dan bagaimana
memotivasi mereka.
Berbagai
asumsi yang mendasari tori X dan Y adalah :
|
Teori X
|
Teori Y
|
|
·
Karyawan cenderung tidak suka
(malas) bekerja, kalau mungkin menhindarinya
·
Karyawan selalu ingin diarahkan
·
Manajer harus selalu mengawasi
kerja
|
·
Kaeryawan suka bekerja
·
Karyawan yang memiliki komitmen
pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya
sendiri
·
Karyawan belajar untuk menerima
bahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja
|
Asumsi yang dikembangkan dalam Teori X pada
dasarnya cenderung negative dan bahwa kebutuhan-kebutuhan
tingkat yang lebih tinggi mendominasi individu. Dalam hal ini, komunikasi yang
dikembangkan antara manajer dengan para karyawannya cenderung menjadi
komunikasi satu arah yaitu komunikasi dari manajer ke bawahan (to-down
communications). Sumber komunikasi lebih didominasi dari manajer, sehingga
bawahan senderung hanya mengiyakan, tidak punya inisiatif, dan hanya
melaksanakan saja tanpa memahami apa maksud dan tujuan atau latar belakang
pelaksanan tugas tersebut.
Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam
Teori Y pada dasarnya senderung positif dan gaya kepemimpina yang diterapkan
adalah gaya kepemimpinan partisipatif (paticipative leadership style). Dalam
teori Y yang di asumsikan bahwa karyawan cenderung berprilaku positif. Karyawan pada dasarnya memiliki semangat
kerja yang tinngi, tidak malas bekerja, ingin kerja mandiri dan memiliki
komitmen yang tinggi dalam mencapau tujuan suatu organisasi. Dalam gaya
kepemimpinan partisiatif tersebut, komunkasi yang dikembangkan antara manajer
dan bawahan adalah kominikasi dua arah. Manajer juga memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk menyampaikan idea tau gagasan, yang sangat berharga bagi
pengembangan suatu organisasi.
Kesimpulannya teori X dan teori Y Douglas
McGregor berusaha mengungkapkan bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja dan
sekaligus begaimana gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi
lingkungan kerja yang berbeda, termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi
(manajer dan bawahan) tesebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya.
b. Teori
system 4 dari rensis likert
Gaya Kepemimpinan Menurut Likert Likert
mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam empat sistem yaitu:
1) Sistem Otoriter-Eksploitatif
Pemimpin tipe
ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap
bawahannya,memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan
satu arah ke bawah (top-down).
2) Sistem Benevolent-Authoritative
Pemimpin
mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan
ancamanatau hukuman tetapi tidak selalu dan membolehkan komunikasi ke atas. Pemimpinmemperhatikan
ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilankeputusan
masih melakukan pengawasan yang ketat.
3) Sistem Konsultatif
Pemimpian mempunyai kekuasaan
terhadao bawahan yang cukup besar. Pemimpian menggunakan balasan untuk
memotivasi dan kadang-kadang menggunkan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua
arah dan menerma keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
.4) Sistem Partisipatif
Pemimpin
mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentifekonomi
untuk memotivasi
bawahan. Komunikasi dua arah dan
menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.
c. Theory of
Leadership Pattern Choice dari Tannenbaum & Schmidt
Dasar teori yang dapat dikaji dalam
pengambilan keputusan pendidikan dan partisipasi guru adalah teori kepemimpinan
kontinuum yang dikembangkan oleh Tannenbaum dan Schmidt. Dalam pandangan kedua
ahli ini ada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Pertama, bidang pengaruh
pemimpin di mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya.
Kedua, bidang pengaruh kebebasan bawahan di mana pemimpin menunjukkan gaya yang
demokratis. Kedua bidang pengaruh ini dipergunakan dalam hubungannnya dengan
perilaku pemimpin melakukan aktivitas pengambilan keputusan. Menurut dua ahli tersebut ada enam
model gaya pengambilan keputusan yang dapat dilakukan oleh pemimpin, yakni :
1) Pemimpin membuat
keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya. Model ini terlihat bahwa
otoritas yang dipergunakan atasan terlalu dominan, sedangkan daerah kebebasan
bawahan sempit sekali.
2) Pemimpin menjual
keputusan. Pada gaya ini pemimpin masih dominan. Bawahan belum banyak
dilibatkan.
3) Pemimpin
menyampaikan ide-ide dan mengundang pertanyaan. Dalam model ini pemimpin sudah
menunjukkan kemajuan. Otoritas mulai berkurang dan bawahan diberi kesempatan
untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bawahan mulai dilibatkan dalam
pengambilan keputusan.
4) Pemimpin memberikan
keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat dirubah. Bawahan sudah
mulai banyak terlibat dalam rangka pengambilan keputusan. Otoritas pelan-pelan
mulai berkurang.
5) Pemimpin memberikan
persoalan, meminta saran-saran dan mengambil keputusan. Pada gaya ini otoritas
yang dipergunakan sedikit. Sedangkan kebebasan bawahan dalam berpartisipasi
mengambil keputusan sudah lebih banyak dipergunakan. Pemimpin merumuskan
batas-batasnya dan meminta kelompok bawahan untuk mengambil keputusan.
Partisipasi bawahan sudah lebih dominan.
6) Pemimpin mengizinkan
bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh
pemimpin.
3.
Teori kepemimpinan dari konsep modern choice Approach to
participation yang memuat konsep Decision tree for leadership dari tokoh Vroom
& Yetton
Vroom
dan Yetton mengembangkan model
kepemimpinan normatif dalam 3kunci utama: metode taksonomi kepemimpinan,
atribut-atribut permasalahan, dan pohonkeputusan (decision tree). 5 tipe kunci
metode kepemimpinan yang teridentifikasi (Vroom &Yetton, 1973).
a.
Autocratic I : membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang
saat ini terdapatpada pemimpin.
b.
Autocratic II: membuat keputusan dengan menggunakan informasi
yang terdapat padaseluruh anggota kelompok tanpa terlebih dahulu
menginformasikan tujuan daripenyampaian informasi yang mereka berikan.
c.
Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu
yang relevan, mengetahuiide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke
dalam kelompok; lalu membuatkeputusan.
d.
Consultative II: berbagi masalah dengan kelompok, mendapatkan
ide-ide dan saranmereka saat diskusi kelompok berlangsung, dan kemudian membuat
keputusan.
e.
Group II : berbagi
masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok,serta menerima
dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.
4.
Teori kepemimpinan dari konsep Contingency theory of leadership
dari Fiedler
Dalam teori ini, Fiedler member tekanan pada efektivitas
dari suatu kelompok. Dikatakan bahwa efektivitas suatu organisasi tergantung pada dua variable
yang saling berinteraksi, yaitu (1) sistem motivasi dari pemimpin, dan (2)
tingkat atau keadaan yang menyenangkan dari situasi. Dengan
perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi
olehsistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan
danmempengaruhi suatu situasi tertentu
Ada tiga dimensi penting
dalam teori ini yaitu :
a. Hubungan Pemimpin
– anggota : bahwa pemimpin akan mempunyai lebih banyak kekuasaan dan pengaruh,
apabila ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan anggota-anggotanya, artinya
kalau ia disenangi, dihormati dan dipercaya.
b. Struktur tugas
: bahwa penugasan yang tersetruktur baik, jelas, eksplisit, terprogram, akan
memungkinkan pemimpin lebih berpengaruh daripada kalau penugasan itu kabur,
tidak jelas, dan tidak bestruktur.
c. Posisi kekuasaan
: pemimpin akan mempunyai kekuasaan dan
oengaruh lebih banyak apabila posisinya atau kedudukannya memperkenankan ia
member ganjaran, hukuman, mengangkat dan memcat, daripada kalau ia tidak
memeiliki kedudukan seperti itu.
5.
Teori kepemimpinan dari konsep Path goal theory
Teori yang menghubungkan perilaku peimpin dan persepsi
situasi bawahan dan cukup berpengaruh dalam kehidupan organisasi yang
diungkapkan oleh House dan Mitchell. Menurut teori ini, para pemimpin bisa
efektif karena pengaruh mereka terhadap motivasi bawahan. Pemimpin dapat
membangkitkan bawahan untuk menampilkan dan mencapai kepuasan dari pekerjaan
yang akan dilakukan. Hali itu dilakukan dengan menjelaskan tujuan-tujuan dari
bawahan, sekaligus jalam atau perilaku (paths) untuk mencapai tujuan tersebut.
Daftar pustaka:
Soekaso.,
Putong, I. (2015). Kepemimpinan, kajian teoritis dan praktis. ______ : ________
Purwanto, D. (2006).
Komunikasi bisnis, edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Robbins, S.P., &
Judge, T.A. (2008). Perilaku organisasi. Jakarta: Salemba.
http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf
(diakses pada 7 November 2015)
https://www.academia.edu/7130888/TUGAS_MANAJEMEN_KEPERAWATAN_TEORITEORI_KEPEMIMPINAN_DAN_GAYA_KEPEMIMPINAN_
(diakses pada 6 November 2015)
Jalusu. J.
(1996). Pengambilan keputusan stratejik. Jakarta: Grasindo.

