Sabtu, 07 November 2015

Kekuasaan dan Leadership

   PSIKOLOGI MANAJEMEN

A.    Kekuasaan

1.      Definisi kekuasaan
            Para ahli mendefinisikan pengertian kekuasaan antara lain sebagai berikut:
a. R. Beirstedt       : kekuasaan merupakan daya kemampuan untuk              menggunakan kekuatan
b. M.F. Rogers      :    kekuasaan merupakan kesanggupan untuk                  mempengaruhi
c. Amitai Etzioni   : daya dalah kemampuan untuk membujuk atau   mempengaruhi perilaku
Berdasarkan pendapat para ahli tersebut diatas dikemukakan pengertian kekuasaan (power) sebagai berikut :
·      Kekuasaan adalah kapasitas untuk mempengaruhi perilaku orang lain kearah pencapaian tujuan
·      Kekuasaan adalah otoritas atau kekuatan untuk mempengaruhi perilakuu individu atau kelompok dan sumber daya untuk mencapai tujuan.

2.      Sumber-sumber kekuasaan menurut French dan Raven
a.       Reward power (kekuasaan menghargai)  
            adalah kekuasaan berdasarkan kemampuan untuk memberikan penghargaan atau imbalan yang dipandang sebagai suatu yang berharga. Miksalnya kekuasaan pemimpin memberikan hadiah, piala, bintang tanda jasa.


b.      Coercive power (kekuasaan memaksa)
            adalah kekuasaan berdasarkan rasa takut dengan menggunakan ancaman dan hukuman. Misalnya kekuasaan pemimpin untuk menunda pembayaran gaji. Menunda kenaikan pangkat, dan memecat pegawai.
c.       Legitimate power (kekuasaan sah)
            adalah kekuasaan berdasarkan keudukan formal secara resmi dalam structural organisasi. Misalnya kekuasaan manajer keuangan untuk melakaukan investasi.
d.      Expert power (kekuasaan ahli)
            adalah kekuasaan berdasarkan keahlian khusus tertentu yang bernilai tinggi, atau kemampuan dan keterampilan yang dimiliknya dalam bidang tertentu. Misalnya kekuasaan pemimpin yang memiliki ahli ekonomi, ahli politik, ukuntar dan dokter.
e.       Referent power (kekuasaan referensi)
            adalah kekuasaan berdasarkan pada kepemilikan sumber daya atau cirri kepribadian tertentu ynag diinginkan adan diperlukan oleh individu atau kelompok lain. Misalnya kekuasaan pemimpin yang sellau tampil dengan day atarik kepribadian seperti taqwa, jujur, disiplin.

B.     Leaderhip

1.      Definisi
            Berbagai pendapat para ahli mendefinisikan pengertian kepemimpinan (leadership) dengan analisa dari sudut pandang yang berbeda, antara lain sebagai berikut :
a.       Ordway Tead (1935)
           Kepemimpinan adalah aktivitas mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai beberapa tujuan yang mereka inginkan.
b.      Harold Koontz & Cyrill O’Donnellc (1976)
            Kepemimpinan adalah seni membujuk bawahan unutk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan semangat keyakinan.
c.       Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard (1982)
            Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan individu atau kelompok dalam usaha unutk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.
d.      Gary Yulk
            Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju tentang apa yang perlu dikerjakan dan bagaimana tugas itu dapat dilakukan secara efektif, dan proses memfalitasi usaha individu dan kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
e.       John C. Maxwell (1967)
            Pemimpin adalah pengaruh, kepemimpinan adalah suatu kehidupan yang mempengaruhi kehidupan lain.
            Berdasarkan pendapat para ahli tersebut dapat dikemukakan beberapa pengertan  kepemimpinan (leadership) yang mudah difahami sebagai berikut  :
·         Kepemimpinan adalah proses pengaruh sosiall dalam hubungan interpersonal, penetapan keputusan dan pencapaian tujuan.
·         Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi perilaku orang lain kearah pencapaian tujuan.

2.      Teori-toeri kepemimpinan partisipatif
a.       Teori X dan teori Y dari Douglas McGregor
                        Salah satu model perilaku kepemimpinan adalh teori X dan teori Y yang dikemukakan oleh Douglas McGregor. Toei X dan Y didasarkan pada berbagai asumsi tentang para karyawan/pegawai dan bagaimana memotivasi mereka.
                        Berbagai asumsi yang mendasari tori X dan Y adalah :
Teori X
Teori Y
·         Karyawan cenderung tidak suka (malas) bekerja, kalau mungkin menhindarinya
·         Karyawan selalu ingin diarahkan
·         Manajer harus selalu mengawasi kerja
·         Kaeryawan suka bekerja
·         Karyawan yang memiliki komitmen pada tujuan organisasi akan dapat mengarahkan dan mengendalikan dirinya sendiri
·         Karyawan belajar untuk menerima bahkan mencari tanggung jawab pada saat bekerja

                        Asumsi yang dikembangkan dalam Teori X pada dasarnya cenderung negative  dan bahwa kebutuhan-kebutuhan tingkat yang lebih tinggi mendominasi individu. Dalam hal ini, komunikasi yang dikembangkan antara manajer dengan para karyawannya cenderung menjadi komunikasi satu arah yaitu komunikasi dari manajer ke bawahan (to-down communications). Sumber komunikasi lebih didominasi dari manajer, sehingga bawahan senderung hanya mengiyakan, tidak punya inisiatif, dan hanya melaksanakan saja tanpa memahami apa maksud dan tujuan atau latar belakang pelaksanan tugas tersebut.
                        Sementara itu, asumsi yang dikembangkan dalam Teori Y pada dasarnya senderung positif dan gaya kepemimpina yang diterapkan adalah gaya kepemimpinan partisipatif (paticipative leadership style). Dalam teori Y yang di asumsikan bahwa karyawan cenderung berprilaku positif.  Karyawan pada dasarnya memiliki semangat kerja yang tinngi, tidak malas bekerja, ingin kerja mandiri dan memiliki komitmen yang tinggi dalam mencapau tujuan suatu organisasi. Dalam gaya kepemimpinan partisiatif tersebut, komunkasi yang dikembangkan antara manajer dan bawahan adalah kominikasi dua arah. Manajer juga memberikan kesempatan kepada bawahan untuk menyampaikan idea tau gagasan, yang sangat berharga bagi pengembangan suatu organisasi.
                        Kesimpulannya teori X dan teori Y Douglas McGregor berusaha mengungkapkan bagaimana perilaku karyawan dalam bekerja dan sekaligus begaimana gaya kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam situasi lingkungan kerja yang berbeda, termasuk bagaimana komunikasi antarpribadi (manajer dan bawahan) tesebut dikembangkan dalam lingkungan kerjanya.

b.      Teori system 4 dari rensis likert
                        Gaya Kepemimpinan Menurut Likert Likert mengelompokkan gaya kepemimpinan dalam empat sistem yaitu:
                    1) Sistem Otoriter-Eksploitatif
                                    Pemimpin tipe ini sangat otoriter, mempunyai kepercayaan yang rendah terhadap bawahannya,memotivasi bawahan melalui ancaman atau hukuman. Komunikasi yang dilakukan satu arah ke bawah (top-down).
                    2) Sistem Benevolent-Authoritative
                                    Pemimpin mempercayai bawahan sampai tingkat tertentu, memotivasi bawahan dengan ancamanatau hukuman tetapi tidak selalu dan membolehkan komunikasi ke atas. Pemimpinmemperhatikan ide bawahan dan mendelegasikan wewenang, meskipun dalam pengambilankeputusan masih melakukan pengawasan yang ketat.
                  3)  Sistem Konsultatif
                                    Pemimpian mempunyai kekuasaan terhadao bawahan yang cukup besar. Pemimpian menggunakan balasan untuk memotivasi dan kadang-kadang menggunkan ancaman atau hukuman. Komunikasi dua arah dan menerma keputusan spesifik yang dibuat oleh bawahan.
                  .4)  Sistem Partisipatif
                                     Pemimpin mempunyai kepercayaan sepenuhnya terhadap bawahan, menggunakan insentifekonomi untuk memotivasi bawahan. Komunikasi dua arah dan menjadikan bawahan sebagai kelompok kerja.

c.       Theory of Leadership Pattern Choice dari Tannenbaum & Schmidt
      Dasar teori yang dapat dikaji dalam pengambilan keputusan pendidikan dan partisipasi guru adalah teori kepemimpinan kontinuum yang dikembangkan oleh Tannenbaum dan Schmidt. Dalam pandangan kedua ahli ini ada dua bidang pengaruh yang ekstrim. Pertama, bidang pengaruh pemimpin di mana pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya. Kedua, bidang pengaruh kebebasan bawahan di mana pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis. Kedua bidang pengaruh ini dipergunakan dalam hubungannnya dengan perilaku pemimpin melakukan aktivitas pengambilan keputusan.             Menurut dua ahli tersebut ada enam model gaya pengambilan keputusan yang dapat dilakukan oleh pemimpin, yakni :
1) Pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya. Model ini terlihat bahwa otoritas yang dipergunakan atasan terlalu dominan, sedangkan daerah kebebasan bawahan sempit sekali.
2) Pemimpin menjual keputusan. Pada gaya ini pemimpin masih dominan. Bawahan belum banyak dilibatkan.
3) Pemimpin menyampaikan ide-ide dan mengundang pertanyaan. Dalam model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan. Otoritas mulai berkurang dan bawahan diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bawahan mulai dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
4) Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat dirubah. Bawahan sudah mulai banyak terlibat dalam rangka pengambilan keputusan. Otoritas pelan-pelan mulai berkurang.
5) Pemimpin memberikan persoalan, meminta saran-saran dan mengambil keputusan. Pada gaya ini otoritas yang dipergunakan sedikit. Sedangkan kebebasan bawahan dalam berpartisipasi mengambil keputusan sudah lebih banyak dipergunakan. Pemimpin merumuskan batas-batasnya dan meminta kelompok bawahan untuk mengambil keputusan. Partisipasi bawahan sudah lebih dominan.
6) Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fungsinya dalam batas-batas yang telah dirumuskan oleh pemimpin.

3.      Teori kepemimpinan dari konsep modern choice Approach to participation yang memuat konsep Decision tree for leadership dari tokoh Vroom & Yetton
            Vroom dan Yetton  mengembangkan model kepemimpinan normatif dalam 3kunci utama: metode taksonomi kepemimpinan, atribut-atribut permasalahan, dan pohonkeputusan (decision tree). 5 tipe kunci metode kepemimpinan yang teridentifikasi (Vroom &Yetton, 1973).
a.       Autocratic I : membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang saat ini terdapatpada pemimpin.
b.      Autocratic II: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang terdapat padaseluruh anggota kelompok tanpa terlebih dahulu menginformasikan tujuan daripenyampaian informasi yang mereka berikan.
c.       Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahuiide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuatkeputusan.
d.      Consultative II: berbagi masalah dengan kelompok, mendapatkan ide-ide dan saranmereka saat diskusi kelompok berlangsung, dan kemudian membuat keputusan.
e.       Group II           : berbagi masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok,serta menerima dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.

4.      Teori kepemimpinan dari konsep Contingency theory of leadership dari Fiedler
            Dalam teori ini, Fiedler member tekanan pada efektivitas dari suatu kelompok. Dikatakan bahwa efektivitas  suatu organisasi tergantung pada dua variable yang saling berinteraksi, yaitu (1) sistem motivasi dari pemimpin, dan (2) tingkat atau keadaan yang menyenangkan dari situasi. Dengan perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi olehsistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan danmempengaruhi suatu situasi tertentu
Ada tiga dimensi penting dalam teori ini yaitu :
a.       Hubungan Pemimpin – anggota : bahwa pemimpin akan mempunyai lebih banyak kekuasaan dan pengaruh, apabila ia dapat menjalin hubungan yang baik dengan anggota-anggotanya, artinya kalau ia disenangi, dihormati dan dipercaya.
b.      Struktur tugas : bahwa penugasan yang tersetruktur baik, jelas, eksplisit, terprogram, akan memungkinkan pemimpin lebih berpengaruh daripada kalau penugasan itu kabur, tidak jelas, dan tidak bestruktur.
c.       Posisi kekuasaan : pemimpin akan  mempunyai kekuasaan dan oengaruh lebih banyak apabila posisinya atau kedudukannya memperkenankan ia member ganjaran, hukuman, mengangkat dan memcat, daripada kalau ia tidak memeiliki kedudukan seperti itu.
5.      Teori kepemimpinan dari konsep Path goal theory
            Teori yang menghubungkan perilaku peimpin dan persepsi situasi bawahan dan cukup berpengaruh dalam kehidupan organisasi yang diungkapkan oleh House dan Mitchell. Menurut teori ini, para pemimpin bisa efektif karena pengaruh mereka terhadap motivasi bawahan. Pemimpin dapat membangkitkan bawahan untuk menampilkan dan mencapai kepuasan dari pekerjaan yang akan dilakukan. Hali itu dilakukan dengan menjelaskan tujuan-tujuan dari bawahan, sekaligus jalam atau perilaku (paths) untuk mencapai tujuan tersebut.

Daftar pustaka:
Soekaso., Putong, I. (2015). Kepemimpinan, kajian teoritis dan praktis. ______ : ________
Purwanto, D. (2006). Komunikasi bisnis, edisi ketiga. Jakarta: Erlangga.
Robbins, S.P., & Judge, T.A. (2008). Perilaku organisasi. Jakarta: Salemba.
http://sulut.kemenag.go.id/file/file/Katolik/xcjq1363633187.pdf (diakses pada 7 November 2015)
https://www.academia.edu/7130888/TUGAS_MANAJEMEN_KEPERAWATAN_TEORITEORI_KEPEMIMPINAN_DAN_GAYA_KEPEMIMPINAN_ (diakses pada 6 November 2015)

Jalusu. J. (1996). Pengambilan keputusan stratejik. Jakarta: Grasindo.