MOTIVASI
A.
Motivasi
1. Definisi Motivasi
Menurut Sardiman (2005), motivasi
adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya
“felling” dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Sejalan dengan
itu ada pendapat lain yang mengatakan bahwa motivasi adalah proses yang
menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai
tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan
ketekunan. Pendapat lain menurut Drs. Moh. Uzer Usman mengatakan bahwa motivasi
adalah suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan/tingkah
laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan/keadaan dan kesiapan dalam
diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam
mencapai tujuan. Dari definisi di atas dapat disimpulakan motivasi adalah suatu
proses perubahan energi dalam diri
seseorang yang menjelaskan intensitas, arah dan ketekunan seorang individu
untuk mencapai tujuan. Motivasi bisa datang dari diri sendiri (internal) dan
lingkungan sekitar (eksternal).
2. Teori Drive Reinforcement dan Implikasi Praktiknya
Teori ini
didasarkan atas hubungan sebab dan akibat dari perilaku dengan pemberian
konpensasi. Misalnya promosi seorang karyawan itu tergantung dari prestasi yang
selalu dapat dipertahankan. Sifat ketergantungan tersebut bertautan dengan
hubungan antara perilaku dan kejadian yang mengikuti perilaku tersebut. Teori
reinforcement ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
a)
Reinforcement Positif (Positive
Reinforcement), yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika pengukuh positif
diterapkan secara bersyarat.
b)
Reinforcement Negatif (Negative
Reinforcement), yaitu bertambahnya frekuensi perilaku, terjadi jika reinforcement
negatif dihilangkan secara bersyarat.
Jadi prinsip reinforcement selalu berhubungan
dengan bertambahnya frekuensi dan tanggapan, apabila diikuti oleh stimulus yang
bersyarat. Demikian juga prinsip hukuman (Punishment) selalu berhubungan dengan
berkurangnya frekuensi tanggapan, apabila tanggapan (response) itu diikuti oleh
rangsangan yang bersyarat.
a) Pengertian
Teori Drive
Teori “drive”
bisa diuraikan sebagai teori-teori dorongan tentang motivasi, perilaku didorong
ke arah tujuan oleh keadaan-keadaan yang mendorong dalam diri seseorang atau
binatang. Contohnya., Freud (1940-1949) berdasarkan ide-idenya tentang
kepribadian pada bawaan, dalam kelahiran, dorongan seksual dan agresif, atau
drive (teorinya akan diterangkan secara lebih detail dalam bab kepribadian).
Secara umum, teori-teori drive mengatakan hal-hal berikut : ketika suatu
keadaan dorongan internal muncul, individu di dorong untuk mengaturnya dalam
perilaku yang akan mengarah ke tujuan yang mengurangi intensitas keadaan yang
mendorong. Pada manusia dapat mencapai tujuan yang memadai yang mengurangi
keadaan dorongan apabila dapat menyenangkan dan memuaskan. Jadi motivasi dapat
dikatakan terdiri dari:
·
Suatu keadaan yang mendorong
·
Perilaku yang mengarah ke tujuan
yang diilhami oleh keadaan terdorong
·
Pencapaian tujuan yang memadai
·
Pengurangan dan kepusaan subjektif
dan kelegaan ke tingkat tujuan yang tercapai
Setelah keadaan itu, keadaan terdorong akan muncul
lagi untuk mendorong perilaku ke arah tujuan yang sesuai. Pengulangan kejadian
yang baru saja diuraikan seringkali disebut lingkaran korelasi.
b) Teori
Reinforcement (Reinforcement Theory)
Teori ini
mempunyai dua aturan pokok : aturan pokok yang berhubungan dengan perolehan
jawaban –jawaban yang benar dan aturan pokok lain yang berhubungan dengan
penghilangan jawaban-jawaban yang salah. Pengukuran dapat terjadi positif
(pemberian ganjaran untuk satu jawaban yang didinginkan) atau negatif (menghilangkan
satu rangsang aversif jika jawaban yang didinginkan telah diberikan), tetapi
organisme harus membuat antara akasi atau tindakannya dengan sebab akibat. Siegel
dan Lane (1982), mengutip Jablonke dan De Vries tentang bagaimana manajemen
dapat meningkatakan motivasi tenaga kerja., yaitu dengan:
·
Menentukan apa jawaban yang
diinginkan
·
Mengkomunikasikan dengan jelas
perilaku ini kepada tenaga kerja.
·
Mengkomunikasikan dengan jelas
ganjaran apa yang akan diterima. Tenaga kerja jika jawaban yang benar terjadi
·
Memberikan ganjaran hanya jika jika
jawaban yang benar dilaksanakan.
·
Memberikan ganjaran kepada jawaban
yang diinginkan, yang terdekat dengan kejadiannya.
Contoh Teori Drive-Reinforcement :
Raisa seorang anak berumur 18 tahun, dia ingin
memasuki pengguruan tinggi. Jika dia memasuki pengguruan tinggi dengan cara
beasiswa orangtuanya akan memberikan dia mobil dan smartphone. Drive Reinforcementnya berbentuk reward berupa materi
yang diberikan oleh orangtuanya.
3. Teori Harapan dan
Implikasi Praktiknya ,
Teori harapan kadang disebut teori ekspektansi atau expectancy theory of motivation
yang dikemukakan oleh Victor Vroom pada
tahun 1964. Vroom lebih menekankan pada faktor hasil (outcomes),
ketimbang kebutuhan (needs) seperti yang dikemukakan oleh Maslow and Herzberg. Teori ini menyatakan bahwa intensitas
kecenderungan untuk melakukan dengan cara tertentu tergantung pada intensitas
harapan bahwa kinerja akan diikuti dengan hasil yang pasti dan pada daya tarik
dari hasil kepada individu. Vroom dalam Koontz, 1990 mengemukakan bahwa
orang-orang akan termotivasi untuk melakukan hal-hal tertentu guna mencapai
tujuan apabila mereka yakin bahwa tindakan mereka akan mengarah pada pencapaian
tujuan tersebut.
Sehubungan dengan tingkat ekspektansi seseorang Craig C. Pinder (1948)
dalam bukunyaWork Motivation berpendapat bahwa ada beberapa
faktor yang mempengaruhi tingkat harapan atau ekspektansi seseorang yaitu:
a. Harga diri.
b. Keberhasilan waktu melaksanakan tugas.
c. Bantuan yang dicapai dari seorang supervisor dan pihak bawahan.
d. Informasi yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas
e. Bahan-bahan baik dan peralatan baik untuk bekerja.
Sementara
teori harapan menyatakan bahwa motivasi karyawan adalah hasil dari seberapa
jauh seseorang menginginkan imbalan (Valence), yaitu penilaian bahwa
kemungkinan sebuah upaya akan menyebabkan kinerja yang diharapkan (Expectancy),
dan keyakinan bahwa kinerja akan mengakibatkan penghargaan (Instrumentality ).
Singkatnya, Valence adalah signifikansi yang dikaitkan oleh individu tentang
hasil yang diharapkan.
Ini
adalah kepuasan yang diharapkan dan tidak aktual bahwa seorang karyawan
mengharapkan untuk menerima setelah mencapai tujuan. Harapan adalah keyakinan
bahwa upaya yang lebih baik akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. Harapan
dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti kepemilikan keterampilan yang sesuai
untuk melakukan pekerjaan, ketersediaan sumber daya yang tepat, ketersediaan
informasi penting dan mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan.
Contoh Teori Harapan :
· Para
manajer dapat mengkorelasikan hasil yang lebih disukai untuk tingkat kinerja
yang ditujukan.
· Para
manajer harus memastikan bahwa karyawan dapat mencapai tingkat kinerja yang
ditujukan.
· Sistem
imbalan harus berlaku jujur dan adil dalam suatu organisasi.
· Tingkat
motivasi karyawan harus terus dikaji melalui berbagai teknik seperti kuesioner,
wawancara personal, dan lain-lain.
4. Teori Tujuan dan Implikasi
Praktiknya
Teori tujuan mencoba menjelaskan hubungan-hubungan
antara niat atau intentions (tujuan-tujuan dengan prilaku), pendapat ini
digunakan oleh Locke. Teori ini memiliki aturan dasar, yaitu penetapan dari
tujuan-tujuan secara sadar. Menurut Locke, tujuan-tujuan yang cukup sulit,
khusus dan pernyataannya yan jelas dan dapat diterima oleh tenaga kerja, akan
menghsilkan unjuk kerja yang lebih tinggi daripada tujuan-tujuan tidak khusus,
dan yang mudah dicapai. Hasil penelitian Edwin Locke dan rekan-rekan (1968),
menunjukkan efek positif dari teori tujuan pada prilaku kerja. Locke menunjukan
bahwa :
a. Tujuan yang cukup sulit ternyata menghasilkan
tingkat kinerja yang lebih tinggi daripada tujuan yang lebih mudah.
b. Tujuan
khusus, cukup sulit untuk menghasilkan tingkat output yang lebih tinggi.
Penetapan tujuan tidak hanya mempengaruhi kerja itu
sendiri, tetapi dapat juga mendorong pegawai untuk mencoba menemukan metode
yang lebih baik untuk melakukan pekerjaan . Teori tujuan berdasarkan pada
intuitif yang solid.
Perusahaan
menggunakan teori tujuan ini, berdasarkan tujuan-tujuan perusahaan, secara
berurutan disusun tujuan-tujuan untuk devisi, bagian sampai satuan kerja yang
terkecil untuk diakhiri penetapan sasaran kerja untuk setiap karyawan dalam
kurun waktu tertentu
Tujuan-tujuan yang bersifat spesifik atau sulit
cenderung menghasilkan kinerja (performance) yang lebih tinggi. Dalam
pencapaian tujuan dilakuka melalui usaha partisipasi yang menimbulkan dampak :
(+)
Acceptance/Penerimaan : sesulit apapun apabila orang telah menerima suatu
pekerjaan maka akan dilaksanakan dengan baik.
(-)
Timbulnya superioritas pada orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi.
Teori tujuan ini, dapat juga ditemukan dalam teori
motivasi harapan. Individu menetapkan sasaran pribadi yang ingin dicapai.
Sasaran pribadi memiliki nilai kepentingan pribadi (valence) yang berbeda-beda.
Proses penetapan tujuan (goal setting) dapat dilakukan
berdasarkan prakarsa sendiri. Bila didasarkan oleh prakarsa sendiri, dapat
disimpulkan bahwa motivasi kerja individu bercorak proaktif dan dan ia akan
memiliki keikatan (commitmen) besar untuk berusaha mencapai tujuan-tujuan yan
telah ia tetapkan.
Contoh
Teori Tujuan
Bila seseorang tenaga kerja memiliki motivasi kerja
yang lebih bercorak reaktif, pada saat ia diberi tugas untuk menetapkan sasaran-sasaran
kerjanya untuk kurun waktu tertentu, dapat terjadi bahwa keikatan terhadap
usaha mencapai tujuan tersebut tidak terlalu besar.
5. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Teori ini
di kemukakan oleh Abraham Maslow dimana manusia mempunyai lima hierarki
kebutuhan yaitu :
a)
Kebutuhan-kebutuhan fisiologis (the
physiological needs).
Contoh : rasa
lapar, haus, istirahat dan sex
b)
Kebutuhan-kebutuhan rasa aman (the safety
needs/the security needs)
Contoh : tidak
dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual
c) Kebutuhan rasa cinta dan
memiliki (the love dan belongingness
needs)
Contoh : kasih sayang orangtua, sahabat,
dan lingkunga sekitar
d) Kebutuhan
akan penghargaan (the self-esteem needs)
Contoh
: mendapatkan penghargaan karena pintar di kelas
e) Kebutuhan akan aktualisasi diri (the self-actualization needs)
Contoh
: menentukan jalan hidupnya
Kebutuhan-kebutuhan tersebut
dikatakan berhierarki karena kebutuhan yang lebih tinggi menuntut dipenuhi
apabila kebutuhan yang tingkatnya lebih rendah sudah dipenuhi.
Menurut Maslow
psikologi harus lebih manusiawi yaitu lebih memusatkan perhatiannya pada
masalah-masalah kemanusiaan. Psikologi harus mempelajari kedalaman sifat
manusia, selain mempelajari yang nampak, juga mempelajari perilaku yang tidak
nampak, mempelajari ketidaksadaran sekaligus mempelajari kesadaran.
6. Menurut Mc Clelland (dalam As’ad, 2004)
ketiga kebutuhan tersebut munculnya sangat dipengaruhi oleh
situasi yang sangat spesifik. Apabila individu tersebut tingkah
lakunya didorong oleh tiga kebutuhan maka tingkah lakunya akan menampakkan
ciri-ciri sebagai berikut:
a) Tingkah
laku individu yang didorong oleh kebutuhan berprestasi yang tinggi akan nampak sebagai
berikut:
- Berusaha melakukan
sesuatu dengan cara-cara yang baru dan kreatif
- Mencari feed back
(umpan balik) tentang perbuatannya
- Memilih
resiko yang moderat (sedang) di dalm perbuatannya. Dengan
- Memilih resiko yang sedang berarti
masih ada peluang untuk berprestasi yang lebih tinggi
- Mengambil
tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya
b) Tingkah
laku individu yang didorong oleh untuk berkuasa yang tinggi akan nampak sebagai berikut:
- Berusaha
menolong orang lain walaupun pertolongan itu tidak diminta
- Sangat aktif dalam menentukan arah
kegiatan dari organisasi di mana ia berada
- Mengumpulkan barang-barang atau menjadi
anggota suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise
- Sangat
peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organisasi
c) Tingkah
laku individu yang didorong oleh kebutuhan untuk bersahabat akan nampak
sebagai berikut:
- Lebih
memperhatikan segi hubungan pribadi yang ada dalam pekerjaannya, daripada segi
tugas-tugas yang ada pada pekerjaan itu
- Melakukan pekerjaannya lebih efektif
apabila bekerjasama bersama orang lain dalam suasana yang lebih kooperatif
- Mencari
persetujuan atau kesepakatan dari orang lain
- Lebih
suka dengan orang lain daripada sendiri
JOB ENRICHMENT
B.
Job Enrichment
1.
Definisi Job Enrichment
Job Enrichment : suatu pendekatan motivasional
Job
Enrichment (pengayaan pekerjaan) adalah suatu
pendekatan untuk merancang kembali pekerjaan guna meningkatkan motivasi
instrinsik dan meningkatkan kepuasaan kerja. Pekerja diberikan kekuasaan atas
pekerjaannya, mereka dapat membuat pekerjaan mereka menjadi lebih
terspesialisir dan sederhana
2. Langkah-langkah dalam re-design pekerjaan untuk job
enrichment
a) Menggabungkan
beberapa pekerjaan menjadi satu.
·
Menjadi lebih besar
·
Lebih bervariasi
·
Kecakapan lebih luas
b) Memberikan modul kerja untuk setiap pekerja.
c) Memberikan
kesempatan pada setiap pekerja untuk dapat bertanggung jawab.
·
Kesempatan mengatur prosedur kerja sendiri
d) Memberikan kesempatan
pekerja menghubungi kliennya sendiri secara langsung.
·
Orang – orang
yang berhubungan dengan pelaksanaan kerjanya.
e) Menciptakan sarana – sarana umpan balik.
·
Pekerja dapat memonitor koreksi diri.
3. Pertimbangan dalam job enrichment
a) Jika
pekerjaan terspesialisir dan sederhana dirancang kembali untuk memotivasi secara
intrinsik pada pekerja, maka kualitas pelaksanaan kerja pekerja akan meningkat.
b) Absensi – absensi dan perpindahan kerja akan berkurang.
c) Dimensi inti
yang berkaitan dengan motivasi intrinsik & lapangan kerja ( Hackman dan Oldham ), yaitu:
1) Keragaman
ketrampilan (skill variety)
Banyaknya ketrampilan
yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan. Makin banyak ragam ketrampilan yang
digunakan, makin kurang membosankan pekerjaan. Misalnya, seorang salesman
diminta untuk memikirkan dan menggunakan cara menjual yang berbeda, display
(etalase) yang berbeda, cara yang lebih baik untuk melakukan pencatatan
penjualan.
2) Jati
diri tugas (task identity)
Tingkat sejauh mana
penyelesaian pekerjaan secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat
dikenali sebagai hasil kinerja seseorang. Tugas yang dirasakan sebagai bagian
dari pekerjaan yang lebih besar dan yang dirasakan tidak merupakan satu
kelengkapan tersendiri menimbulkan rasa tidak puas. Misalnya, seorang salesman
diminta untuk membuat catatan tentang penjualan dan konsumen, kemudian
mempunyai dan mengatur display sendiri.
3) Tugas yang penting (task significance)
Tingkat sejauh mana
pekerjaan mempunyai dampak yang berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang
tersebut merupakan rekan sekerja dalam suatu perusahaan yang sama maupun orang
lain di lingkungan sekitar. Jika tugas dirasakan penting dan berarti oleh
tenaga kerja, maka ia cenderung mempunyai kepuasan kerja. Misalnya, sebuah perusahaan
alat-alat rumah tangga ingin mengeluarkan produk panci baru. Para karyawan
diberikan tugas untuk mencari kriteria seperti apa panci yang sangat dibutuhkan
oleh ibu-ibu masa kini. (tugas tersebut memberikan kepuasan tersendiri bagi
karyawan karena hasil kerjanya nanti secara langsung akan memberi manfaat
kepada pelanggan)
4) Otonomi
Tingkat kebebasan
pemegang kerja, yang mempunyai pengertian ketidaktergantungan dan keleluasaan
yang diperlukan untuk menjadwalkan pekerjaan dan memutuskan prosedur apa yang akan
digunakan untuk menyelesaikannya. Pekerjaan yang memberi kebebasan,
ketidaktergantungan dan peluang mengambil keputusan akan lebih cepat
menimbulkan kepuasan kerja. Misalnya, seorang manager mempercayai salah satu
karyawan untuk memperebutkan tender dari klien. Karyawan tersebut menggunakan
ide dan caranya sendiri untuk menarik perhatian klien . Karyawan diberi
kebebasan untuk mengatur sendiri waktu kerja dan waktu istirahat.
5) Umpan
balik (feed back)
Memberikan informasi
kepada para pekerja tentang hasil pekerjaan sehingga para pekerja dapat segera
memperbaiki kualitas dan kinerja pekerjaan. Misalnya, dalam menjual produk
salesman didorong untuk mencari sendiri informasi, baik dari atasan maupun dari
bagian‑bagian lain, mengenai segala hal yang berkaitan dengan jabatannya serta
meminta pendapat konsumen tentang barang‑barang yang dijual, pelayanan, dll.
Daftar
Pustaka :
http://perilakuorganisasi.com/teori-harapan.html.
http://wangmuba.com/2009/02/18/teori-teori-motivasi.
As’ad, M. (2004). Psikologi industri (ed: 4th). Yogyakarta: Liberty.
Basuki, H. (2008).
Psikologi umum. Jakarta: Universitas
Gunadarma.
Munandar, A. (2001). Psikologi industri dan
organisasi.
Jakarta: Universitas Indonesia
P.Siagian, Sondang, Prof. Dr. MPA. (1988). Teori dan praktek kepemimpinan. Jakarta: Rineka Citra.



0 komentar:
Posting Komentar